Mengenal Kyai Modjo: Panglima Perang Suci dan Ulama Karismatik di Balik Perlawanan Diponegoro

Memiliki garis keturunan bangsawan dari Keraton Yogyakarta, ia juga merupakan saudara sepupu Pangeran Diponegoro.

Ronald Seger Prabowo
Minggu, 16 Maret 2025 | 17:24 WIB
Mengenal Kyai Modjo: Panglima Perang Suci dan Ulama Karismatik di Balik Perlawanan Diponegoro
Kyai Modjo adalah seorang ulama sekaligus panglima perang yang dipercaya oleh Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. [Facebook.com/@Salim A.Fillah]

SuaraSurakarta.id - Kyai Modjo adalah seorang ulama sekaligus panglima perang yang dipercaya oleh Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.

Memiliki garis keturunan bangsawan dari Keraton Yogyakarta, ia juga merupakan saudara sepupu Pangeran Diponegoro.

Dalam Perang Jawa (1825-1830), Kyai Modjo berperan sebagai ahli strategi militer serta pembimbing spiritual bagi Pangeran Diponegoro. Namun, pada 1828, keduanya berpisah karena perbedaan pandangan dalam ajaran Islam.

Asal-Usul dan Latar Belakang

Baca Juga:PB XI dan PB XII Diusulkan Sebagai Pahlawan Nasional, Kerabat Keraton Solo: Ada Jejak Perjuangan Beliau

Lahir di Surakarta pada 1792, Kyai Modjo berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Iman Abdul Ngarip, lebih dikenal sebagai Kiai Baderan, seorang ulama besar, sementara ibunya, R.A. Mursilah, merupakan keturunan bangsawan.

Meski memiliki darah biru, Kyai Modjo tidak tumbuh di lingkungan keraton. Sebagai keponakan Sultan Hamengkubuwana III, ia memiliki hubungan keluarga dengan Pangeran Diponegoro, yang tetap menghormatinya dengan panggilan "paman."

Pendidikan dan Perjalanan Religius

Dibesarkan dalam keluarga religius, Kyai Modjo mendapatkan pendidikan Islam sejak kecil.

Setelah menguasai ilmu agama, ia menunaikan ibadah haji dan menetap sementara di Mekkah untuk memperdalam pemahaman Islam.

Baca Juga:Dulu Nyaris Roboh, Kini Ndalem Sasana Mulyo Keraton Solo Bak 'Lahir Kembali' dan Berdiri Tegak

Sepulangnya ke tanah air, ia meneruskan jejak ayahnya dalam berdakwah dan mengelola pesantren.

Bersama para santrinya, ia aktif dalam gerakan antipemurtadan yang merambah kalangan bangsawan keraton. Ia juga bercita-cita mendirikan pemerintahan Islam di Jawa.

Keterlibatan dalam Perang Jawa

Ketika konflik antara Pangeran Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda meletus pada 1825, Kyai Modjo langsung bergabung.

Sejak hari pertama pasukan Pangeran Diponegoro berkumpul di Gua Selarong, ia ikut menyusun strategi perang gerilya. Selain itu, ia menjadi perwakilan dalam negosiasi penting dengan Belanda pada 29 Agustus 1827 di Klaten.

Sebagai pemimpin spiritual, Kyai Modjo berhasil merekrut banyak ulama dan pemuka agama, termasuk 88 kiai desa, 11 syekh, 18 pejabat agama, serta puluhan guru mengaji dari berbagai daerah seperti Bagelen, Kedu, Mataram, Pajang, Madiun, dan Ponorogo.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak