Radjiman lulus pada 1893, dan selanjutnya atas rekomendasi dan bantuan dr. Wahidin, dia berlanjut bersekolah di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) alias sekolah “dokter Jawa” di Batavia atau Jakarta.
Radjiman merampungkan pendidikannya di perguruan yang banyak melahirkan para tokoh pejuang perintis kemerdekaan itu pada 1899.
Sebagai seorang dokter muda berusia 19 tahun saat itu, dia lantas menjalani karier kedokteran dengan Radjiman memulai karirnya sebagai seorang dokter yang bertugas di CBZ (Centraale Burgerlijke Ziekenhuis) atau Rumah Sakit Pemerintah Pusat di Jakarta.
Setelah itu dia ditugaskan ke berbagai daerah seperti di Banyumas, Semarang, Madiun, Sragen, dan Jawa Timur. Dia kemudian juga diangkat sebagai dokter Keraton Kasunanan Surakarta.
Baca Juga:Rayakan HUT Kemerdekaan RI ke-76, Ada Pagelaran Wayang Virtual di Tokyo!
Pada 1909 Radjiman berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan dokternya. Dia lulus setahun kemudian dengan gelar dokter yang setara dengan kualifikasi dokter di Eropa.
Tak hanya itu, Radjiman terus menambah ilmu dengan belajar ilmu kebidanan dan penyakit kandungan di Berlin, Jerman, lalu kembali ke Belanda untuk belajar ilmu ronsen atau radiologi.

Mengabdi pada Rakyat
Dengan kepakaran ilmu kedokteran yang dikuasainya, di atas kertas Radjiman sebenarnya bisa “hidup enak” dengan menjadi pengajar kedokteran, membuka praktik dan bertugas di rumah sakit pemerintah di kota besar, atau menjadi peneliti.
Apalagi Radjiman kemudian mendapat gelar “Kanjeng Raden Tumenggung (KRT)” dan nama penyerta gelar “Wedyodiningrat” dari Kasunanan Surakarta. Nama ini sepertinya berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta “widya” yang artinya “ilmu” atau “berilmu tinggi.”
Baca Juga:10 Menu Ini Rasa Kita! ala McD Meriahkan Hari Kemerdekaan RI 2021
Namun Radjiman tak lupa dengan tanah tempat asalnya. Dia ikut mendirikan dan membangun Budi Utomo, organisasi perintis kesadaran nasionalisme.