Code base Bukalapak diselesaikan dalam waktu dua bulan. Awalnya, Zaky mengajak para pedagang di mall untuk bergabung di Bukalapak.
Tetapi, respon yang diberikan oleh mereka sangat kecil. Klien pertama yang ia dapat justru dari pedagang kecil.
Habis Modal
Pada 2011 lalu dia sempat putus asa karena kehabisan modal. Apalagi calon mertuanya juga tidak yakin jika Bukalapak memberikan penghasilan yang labil.
Baca Juga:Keluarga Sultan, Ini Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia 2021
Meski demikian, calon triliuner asal Sragen itu tidak tega melihat ribuan UMKM yang bergantung pada platform tersebut. Dia pun akhirnya menempuh berbagai cara untuk mengembangkan bisnis e-commerce di Indonesia.
Perjuangan Zaky dan teman-temannya pun berhasil hingga Bukalapak menjadi unicorn atau startup dengan valuasi US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun (kurs Rp14.000) pada 2018.
Zaky menempati posisi Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak sejak berdiri hingga akhir tahun 2019. Posisinya kemudian digantikan oleh Rachmat Kaimuddin.
Sebelum merintis situs Bukalapak, Zaky mendirikan perusahaan jasa konsultasi teknologi bernaama Suitmedia. Dia juga sempat mencoba usaha kuliner mi ayam, namun bangkrut.
Dikutip dari Wikipedia, Selasa (13/7/2021), calon triliuner asal Sragen ini mengenal dunia teknologi sejak SD. Sejak kecil dia tumbuh bersama komputer dan buku-buku yang berhubungan dengan pemrograman
Baca Juga:Daftar 10 Orang Kaya Raya Indonesia 2021, Penyumbang Rp 2 T Akidi Tio Tak Masuk Daftar
Pada tahun 2004, Achmad Zaky melanjutkan studinya di jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung. Zaky sempat meraih beasiswa studi ke Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama dua bulan pada tahun 2008. Selain itu, ia juga pernah mewakili ITB dalam ajang Harvard National Model United Nations 2009.