Memasuki kurun waktu 1950 sampai 1958, periode forum tinggi dilakukan selama tiga tahun sekali. Pergeseran periodik mulai kembali terjadi antara tahun 1971 sampai 1985 karena instabilitas nasional.
Namun sejak 1985 sampai saat ini, forum tinggi rutin dijadwalkan selama lima tahun sekali, kecuali pada dua tahun terakhir akibat pandemi global Covid-19 yang mengakibatkan forum tinggi ditunda.
Perubahan periode seperti ini sejatinya dimaklumi oleh Muhammadiyah. Lebih jauh, Muhammadiyah memiliki sistem antisipasi bernama Muktamar Luar Biasa atau MLB. MLB dilaksanakan ketika terjadi kekosongan kepemimpinan atau terjadinya situasi krisis yang membahayakan Muhammadiyah.
Total sampai Muktamar terbaru tahun 2022 ini, forum tinggi dilaksanakan 39 kali di pulau Jawa dan 9 kali di luar pulau Jawa. Dalam hitungan ini, Yogyakarta adalah yang paling banyak menjadi tuan rumah dengan jumlah 24 kali menyelenggarakan forum tinggi.
Kota-kota yang pernah menjadi tuan rumah adalah Jakarta (3 kali), Surakarta (4 kali), Makassar (3 kali), Malang (2 kali), Surabaya (2 kali), Purwokerto (2 kali), dan sekali di kota seperti Bukittinggi, Padang, Pekalongan, Semarang, Bandung, Medan, Banjarmasin, dan Palembang.
Perubahan Istilah, dari Pertemuan, Kongres hingga Muktamar
Untuk peristilahan forum tinggi, tahun 1912-1921 memakai istilah bahasa belanda ‘Algemene Vergadering’ (rapat umum). Namun Muhammadiyah juga sempat memakai istilah Belanda lain seperti ‘Jaarvergadering’ (pertemuan tahunan) pada 1922.
Pada tahun 1923, Muhammadiyah mulai menggunakan peristilahan Indonesia, yakni Perkumpulan Tahunan. Namun sejak 1924-1946, Muhammadiyah mulai menggunakan peristilahan serapan dari bahasa Inggris, yakni Congress (kongres).
Forum tinggi juga sempat memakai beberapa peristilahan khusus, misalnya Congres Seperempat Abad di Jakarta tahun 1936, hingga Congres Dharurot yang diselenggarakan secara terbatas pada 1944, dan 1946 karena meletusnya peperangan dan revolusi fisik bangsa Indonesia melawan penjajah.
Penggunaan istilah Muktamar mulai terjadi sejak tahun 1950. Nama istimewa Muktamar terjadi pada tahun 1936 (Muktamar Seperempat Abad), 1962 (Muktamar Setengah Abad, juga disebut sebagai Muktamar Anugerah karena Muhammadiyah tidak jadi dibubarkan oleh pemerintah), dan 2010 (Muktamar Satu Abad).