Kampung yang dibangun seiringan dengan pembangunan Masjid Agung sekitar tahun 1745 ini cukup unik. Di mana kampung tersebut satu atap yang memanjang, kemudian diberi pembatas atau sekat-sekat.
"Disebut Gedang Selirang, karena atapnya itu bentuknya seperti pisang salirang. Jadi sejarahnya seperti itu, mereka boleh tinggal di sini tapi tidak boleh dijual," imbuh dia.
Menurutnya, fungsi sekarang masih aktif seperti dulu sebagai tempat tinggal petugas yang merawat Masjid Agung. Jadi tidak ada perubahan sama sekali, masih sama seperti dulu.
"Yang tinggal di sini ada semacam perjanjian, kalau sudah menikah harus meninggalkan kampung ini atau menggantikan ayahnya sebagai petugas yang mengurus masjid," paparnya.
Baca Juga:Waduh! Hujan Deras Disertai Angin, Lampion Shio Macan di Depan Balai Kota Solo Roboh
Di kawasan Masjid Agung itu tidak hanya ada kampung, tapi ada juga pondok pesantren dan sekolah.
Dulu di Kauman terdapat kampung atau dusun kecil yang memiliki fungsi dan identitas masing-masing. Apalagi lokasinya dengan Keraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung.
Jumlahnya banyak, salah satunya itu Gedang Selirang yang satu kawasan dengan Masjid Agung, mungkin ini biar lebih dekat dan cepat jika dibutuhkan.
Di kawasan masjid itu pekarangan yang ditanami pohon-pohon, kondisinya masih sepi. Sekitar tahun 1930 an dibangun sekolah dan ponpes sekitar tahun 1980 an.
Bisa dikatakan di sini itu seperti departemen agamanya waktu zaman pemerintah keraton dulu.
Kontributor : Ari Welianto