- Sebuah utas viral di X berisi pengakuan perempuan tentang kekerasan bertahap dalam relasi dengan penulis bergelar doktor.
- Relasi bermula dari perkenalan belajar menulis pada Maret 2025, berkembang menjadi kontrol emosi dan isolasi.
- Pasca-relasi, korban mengalami dampak psikologis berat serta sedang menjalani proses pendampingan dan hukum.
SuaraSurakarta.id - Sebuah utas panjang di media sosial aplikasi X mendadak viral dan menyedot perhatian publik. Bukan sekadar curahan hati, tulisan itu memuat pengakuan seorang perempuan yang mengaku mengalami rangkaian kekerasan dalam sebuah relasi, yang berlangsung secara bertahap dan kompleks.
Utas viral tersebut dibagikan dalam beberapa bagian, yang oleh penulisnya disebut sebagai “tahap”, mulai dari awal perkenalan hingga kondisi pascakejadian. Narasi yang disusun berlapis itu menggambarkan bagaimana hubungan yang awalnya terasa wajar perlahan berubah menjadi situasi yang menekan secara emosional dan mental.
Dalam utas yang beredar, sosok terduga pelaku disebut bukan orang sembarangan. Penulis utas menyebut individu pelaku tersebut merupakan seorang penulis buku dengan latar belakang pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral (S3). Namun hingga kini, belum ada klarifikasi dari pihak yang disebut.
Dalam bagian awal, penulis utas mengaku pertama kali menghubungi sosok tersebut pada akhir Maret 2025 dengan tujuan belajar menulis. Pertemuan awal berlangsung di sebuah kafe dan tidak menunjukkan kejanggalan berarti.
Namun dalam interaksi tersebut, ia menyebut mulai mendapat perhatian personal yang intens. Pujian, pertanyaan pribadi, hingga gambaran masa depan bersama disebut muncul dalam percakapan.
Situasi ini, dalam banyak kasus, dikenal sebagai proses grooming—yakni pendekatan untuk membangun kedekatan emosional dan kepercayaan.
Pada tahap berikutnya, penulis mengaku mulai diajak ke lingkungan pribadi terduga pelaku. Ia juga menggambarkan adanya pola cerita sedih yang memancing empati, membuatnya merasa iba dan sulit menolak permintaan.
Dalam utas tersebut, ia menyebut beberapa situasi yang membuatnya berada dalam posisi tidak nyaman, termasuk kondisi yang membuatnya harus bertahan di lokasi hingga pagi hari.
Perlahan, ia merasa batasan pribadinya mulai diuji dan bergeser.
Baca Juga: Listrik Dipadamkan PLN, Keraton Kasunanan Surakarta Sempat Gelap Gulita Selama 2 Hari
Seiring waktu, relasi disebut menjadi semakin intens. Penulis mengaku diminta terlibat dalam berbagai aktivitas, termasuk membantu pekerjaan yang berkaitan dengan karya dan aktivitas profesional terduga pelaku.
Ia juga menyebut adanya tekanan verbal serta komentar yang merendahkan. Selain itu, ruang sosialnya disebut mulai menyempit, ia merasa tidak leluasa berinteraksi dengan orang lain atau menceritakan apa yang dialaminya.
Dalam kajian psikologi, pola seperti ini kerap dikaitkan dengan coercive control atau kontrol yang bersifat menekan secara bertahap.
Dalam lanjutan utas, penulis menggambarkan situasi yang semakin memburuk. Ia mengaku mengalami isolasi sosial, tekanan emosional, hingga perlakuan yang disebutnya sebagai kekerasan verbal dan fisik.
Narasi tersebut memuncak pada pengakuan adanya dugaan kekerasan seksual, yang menurut penulis terjadi dalam kondisi tekanan dan ketidakberdayaan.
Bagian ini menjadi salah satu yang paling banyak disorot publik, sekaligus memicu diskusi luas mengenai relasi kuasa dan pentingnya persetujuan (consent) dalam hubungan.
Tag
Berita Terkait
-
7 Fakta Kasus Ayah di Klaten Diduga Lakukan Kekerasan Seksual pada Anak Selama 14 Tahun
-
Didatangi Warga Solo Sambil Nangis-nangis, Komisi III DPR RI Kena Prank Kasus?
-
UNS Bebas Kekerasan Seksual, Rektor Baru Bentuk Satgas Khusus
-
Sragen Darurat Kekerasan Seksual Anak, Korban Tembus 25 Orang
-
TKN Prabowo-Gibran Sebut Isu Kekerasan Perempuan dan Anak Jadi Prioritas, Apa Programnya?
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Kunjungi Guru Ngaji Jokowi, Gibran Minta Doa untuk Sang Ayah
-
Kaget Lihat Kondisi Keraton Kilen, Menbud Fadli Zon Tegaskan Revitalisasi jadi Prioritas
-
PB XIV Purboyo dan Tedjowulan Sama-sama Gelar Halal Bi Halal, Menbud Fadli Zon Turut Hadir
-
Viral Utas Dugaan Kekerasan dalam Relasi, Sosok Pelaku Disebut Penulis Buku Berpendidikan Tinggi
-
Sowan ke Jokowi Bersama Forkopimda, Respati Sampaikan Perkembangan Kota Solo, Apa Saja?