- Keraton Kasunanan Surakarta menyelenggarakan dua kirab Grebeg Mulud pada Rabu, 26 Agustus 2026.
- Kubuan Lembaga Dewan Adat dan kubu PB XIV Purboyo sama-sama melaksanakan kirab menggunakan empat pasang gunungan.
- Pelaksanaan kirab dibagi dalam waktu berbeda oleh kedua kubu untuk mencegah terjadinya gesekan.
SuaraSurakarta.id - Ada dua gelaran kirab Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta pada, Rabu (26/8/2026).
Dua kubu, yakni Lembaga Dewan Adat ,(LDA) dan Paku Buwono (PB) XIV Purboyo sama-sama menggelar kirab grebeh mulud di hari yang sama.
Kubu LDA menggelar kirab gunungan sekitar pukul 09.30 WIB, sedangkan kubu PB XIV Purboyo menggelar prosesi kirab pukul 11.10 WIB.
Sinuhun PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo sama-sama mengikuti prosesi kirab. Bahkan keduanya sama-sama melepas rombongan kirab menuju Masjid Agung.
Baca Juga:Pembukaan Akses Secara Paksa, Kubu PB XIV Purboyo Tegas akan Lawan Usai dapat Ancaman dan Intimidasi
Ada empat pasang gunung yang dibuat dan dikirab, masing-masing kubu membuat dua pasangan gunungan.
Ketua LDA GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) mengatakan pihaknya terlebih dahulu menggelar kirab. Ini sudah dibicarakan dan disepakati bersama.
"Inikan lebih dulu untuk melakukan grebegnya. Kita sudah semua tinggal menunggu waktunya saja," terangnya saat ditemui, Rabu (26/8/2026).
Gusti Moeng menjelaskan semalam sudah dibicarakan kalau pihaknya terlebih dahulu. Daripada ada masalah kalau digelar barengan, sehingga dibagi waktunya saja.
"Kita jam 9-an tadi digelar. Saya tidak tahu persiapan mereka seperti apa, tapi yang jelas pagi ini yang datang adalah dari Sinuhun PB XIV Hangabehi," ungkap dia.
Baca Juga:Ancam Buka Paksa Keraton Solo, Kubu PB XIV Purboyo Meradang: Kenapa Harus Pakai Kekerasan?
Gusti Moeng berharap mereka tidak lagi menggelar grebeg mulud yang akan datang. Kalau mereka tetap nekat dan ngeyel maka mereka harus menunjukan identitas yang sebenarnya.
"Harapannya mereka sudah nggak lagi nanti di grebeg yang akan datang. Kalau dia ngeyel ya sudah, yang seperti selalu kami sampaikan mereka harus menunjukan identitas yang sebenarnya dengan tes DNA," jelasnya.
Menurutnya pada grebeg kalau ini ada dua pasang gunungan. Untuk prosesnya itu paling depan seperangkat gamelan nyai guntur sari ikut keluar lagi dan di depan sendiri.
"Setelah prajurit langsung gunungan dan penderek terakhir pencitro. Jadi ada dua pasang gunungan," kata dia.
Sementara Pengageng Sasana Wilapa dari PB XIV Purboyo, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani mengatakan tadi membuat langkah-langkah supaya tidak ada gesekan.
"Sehingga kami mengalah untuk membiarkan mereka melakukan terlebih dahulu," ujarnya.