- Pakar lingkungan UNS Prof. Prabang Setyono menyatakan pemotongan anggaran penanggulangan bencana menurunkan kesigapan pemerintah daerah dalam penanganan darurat.
- Kebakaran di TPA Putri Cempo terjadi akibat terbentuknya segitiga api yang menghubungkan oksigen, cuaca panas, dan gas metana.
- Solusi pencegahan kebakaran TPA meliputi penggunaan pipa penyalur gas metana, pemantauan drone, serta pembuatan kolam sedimen.
SuaraSurakarta.id - Pakar Lingkungan UNS Prof. Dr. Ir Prabang Setyono menyoroti pentingnya anggaran untuk kebencanaan mengingat di Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai bencana.
Prabang menyebut anggaran tanggap bencana memang masuk dalam efisiensi atau ada pemotongan. Sehingga yang dulu bisa melakukan apa-apa, sekarang bisanya melakukan sesuai anggaran yang ada.
"Sangat pengaruh sebenarnya anggaran untuk kebencanaan. Penanganan bencana mau tidak mau, di mana itu ada aktivitas berkonsekuensi kepada operasional, ya mesti harus ada dana," ujarnya saat dihubungi.
Menurutnya di pemerintah daerah saja fiskalnya berkurang, karena adanya pemotongan anggaran. Otomatis adanya pemotongan itu maka kemampuan daerah untuk membiayai BPBD, itupun masih berkurang.
Baca Juga:Terharu! Pemilik Warung Asal Aceh Ini Beri Makan Gratis untuk Sesama Perantau Sumatera di Solo
"Jadi politik fiskal itu akan mempengaruhi kesigapan, kecepatan, akurasi dalam penanganan bencana itu. Jadi nggak bisa tutup mata, memang iya kita akui," ungkap dia.
Terkait penanggulangan bencana akan tidak parah termasuk kerusakan maupun korban, maka pemerintah harus mengembangkan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini.
EWS itu sangat diperlukan, apalagi sekarang banyak literasi, punya instrumen seperti BMKG, punya instrumen Badan Geologi
"Instrumen-instrumen itu kita fungsionalkan untuk membuat pemodelannya, persoalan meleset itu, tugasnya manusia hanya ikhtiar. Tapi minimal dengan keilmuan prediksinya itu melesetnya jadi sedikit, itu kemudian kita simulasi kira-kira kalau terjadi bencana ini, daya rusak, daya jelajahnya bencanannya itu berapa dan seterusnya," paparnya.
Dikatakannya itu bisa diprediksi, sehingga anggaran itu berbasis kepada action saintifik seperti itu. Jangan anggaran berbasis kepada kebiasaan, biasa dianggarkan sekian ternyata tidak terjadi, jadi anggarannya numpuk.
Baca Juga:Wali Kota Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Usai Aksi Anarkis di Solo
"Sementara tidak dianggarkan malah terjadi bencana. Jadi distribusi berbasis pada kebiasaan itu harus dirubah polanya. Jadi anggaran itu harus berbasis kepada, kalau saya mengatakan kita ini kajian-kajian itulah yang menjadi dasar dari kebijakan muncul, jangan sampai kejadian dulu baru dikaji, kelemahan negara kita kan gitu terjadi bencana dulu baru dikaji, kan sudah terjadi korban, kerugian sudah ada di depan mata kok baru dikaji," jelas dia.
Terkait kebakaran di TPA Putri Cempo itu kalau dikatakan seperti gunung es. Artinya, dari TPA open dumping yang kurang lebih dari 548 kabupaten/kota itu semua punya potensi itu.
"Kenapa kok istilahnya di TPA Putri Cempo dulu, karena yang lainnya tinggal menunggu. Di Putri Cempo itu usianya sudah lam sejak tahun 1985 atau sudah 41 tahun, artinya sampah sudah tertumpuk selama 41 tahun dan itu terus terang sanitary landfill sudah terkubur, gas metananya itu memang otomatis terekspos di mana-mana dan tidak terkontrol," terangnya.
Prabang menyebut kata kuncinya sebenarnya di segitiga api, jadi tidak semata-mata itu harus dibakar dengan korek api.
Segitiga apinya itu, satu adalah oksigen dan itu bisa terbawa oleh angin dan itu sudah untuk di menej, tidak bisa anginnya diminta jangan bertiup ke putri cempo.
Untuk yang kedua itu panas, memang cuaca saat ini sedang el nino dan itu tidak mungkin kalau panasnya itu diminta tidak ke putri cempo. Itu jelas tidak bisa.
"Baru segitiga yang ketiga itu namanya bahan bakar, bahan bakarnya itu ada metana di situ. Nah, ketika segitiga itu terhubung mesti muncul api. Mungkin di TPA lain segitiga apinya itu belum terbentuk, belum terhubung," katanya.
Sebagai solusi, bagaimana gas metana itu bisa disalurkan karena kalau angin dan oksigen itu tidak bisa dimenej. Biasanya settingannya itu sanitary landfill ada pipa-pipa untuk menyalurkan gas metana itu.
Sehingga nanti pada ujungnya kemudian ditarik ke atas dan dibakar biar gas metana itu hilang. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk kompor gas.
Kalau memang sanitary landfill pipa-pipa tidak ready, ya sudah berati namanya monitoring.
"Mobile monitoringnya begini, ketika musim panas ini sudah bisa diprediksi maka bisa patroli lewat pesawat drone dengan menggunakan sensor panas. Itu nanti bagaimana mereka mensurvei titik mana yang panasnya sudah di atas angka 60-70 derajat. Karena kalau sudah 70 derajat kemudian segitiga apinya itu potensial terbentuknya tinggi, nah ketika ada suhu di atas itu bisa terdeksi," tandas dia.
"Segere diterbangkan lagi pesawat drone yang sama tapi untuk menyemprotkan air. Jadi itu pembasahan, ini agar suhunya turun dari 70 derajat menjadi 40 derajat atau 30 derajat," lanjutnya.
Prabang mengaku sudah berkoordinasi dengan pemkot soal permasalahan di TPA Putri Cempo, sudah dibuat mapping bahkan punya pikiran semacam kolam, jadi ada air disekitar itu. Sehingga ketika menjadi kebakaran, emergency tidak perlu cari air ke sungai-sungai.
"Tapi ya persoalan pendanaan sehingga agak tertunda dalam pembuatannya itu. Modelnya itu nanti mengitari di lahan putri cempo, jadi dibuat semacam sendimen trap. Artinya kalaupun nanti turun hujan maka airnya akan terjebak di situ kemudian di situ kan ada sendimen nya, nah sehingga ketika ada bahan baku untuk pemadam yang ada terdekat di situ," ucap dia.
"Yang saya usulkan sendimen diambil sekaligus airnya untuk menutup mana api itu berasal. Karena biasanya api itu berasal, di situ lah mesti ada yang namanya celah-celah, di bawahnya itu bisa jadi gas metana itu ada di bawah, bisa 1,5 meter atau 1 meter hanya terekspos apinya itu di permukaan. Itu kalau hanya menggunakan air maka yang mati hanya di permukaan tapi ketika air mau masuk di celah-celah sudah terlanjur terjadi penguapan sehingga airnya hilang," tandasnya.
"Tapi kalau dengan sendimen, sendimen itu akan menutup celah-celahnya. Maka sudah tidak ada lagi celah yang terekspos keluar, metana otomatis tertimbun ke bawah," pungkas dia.
Kontributor : Ari Welianto