Selain pandemi Covid-19 yang berdampak banyak pada sepinya penumpang angkot, keberadaan transportasi online juga punya andil. Transportasi online diminati masyarakat karena bisa menjemput dan mengantar penumpang dari mana saja, berbeda dengan angkot yang harus berjalan sesuai jalur yang ditetapkan.
“Yang kadang susah, banyak driver online yang menjemput dan memberhentikan penumpang di sembarang tempat. Misalnya di sini [Pasar Kota Wonogiri] kan sebenarnya zona merah untuk transportasi online. Jadi kadang-kadang kalau ada yang nekat itu menimbulkan kecemburuan bagi kami,” ujar Mandra.
Ketika melihat transportasi online memberhentikan penumpangnya di zona merah, sopir-sopir angkot mengingatkan dan menasihati mereka.
Menurunnya jumlah penumpang angkot membuat para sopir angkot melakukan usaha sampingan. Mulyadi misalnya. Di rumah sepulang mencari penumpang, ia dan istrinya berjualan makanan.
Baca Juga:Terjun ke Sungai Usai Tabrak Pengendara, Sopir Angkot di Medan Serahkan Diri ke Polisi
Namun hal itu tidak bisa dilakukan sopir angkot lain seperti Mandra dan Purwanto. Mereka hanya mengandalkan bekerja sebagai sopir angkot.
“Istilahnya, hidup segan mati tak mau,” ujar Mandra sambil tertawa bersama sopir angkot lainnya.