Dari Petani hingga Startup, FISR 2025 Solo Satukan Visi Beras Masa Depan

FISR mendorong adanya kolaborasi dalam mewujudkan sistem perberasan yang lebih berkelanjutan dan rendah emisi karbon di Indonesia.

Ronald Seger Prabowo
Selasa, 29 Juli 2025 | 17:40 WIB
Dari Petani hingga Startup, FISR 2025 Solo Satukan Visi Beras Masa Depan
Sebanyak 250 peserta dari beragam latar belakang – mulai dari petani, penggiling padi, pelaku usaha, sektor swasta, startup, akademisi, pemerintah, hingga konsumen hadir dalam Forum on Indonesia Sustainable Rice (FISR) 2025 di Kota Solo, Selasa (28/7/2025). [Suara.com/Ari Welianto]

SuaraSurakarta.id - Sebanyak 250 peserta dari beragam latar belakang – mulai dari petani, penggiling padi, pelaku usaha, sektor swasta, startup, akademisi, pemerintah, hingga konsumen hadir dalam Forum on Indonesia Sustainable Rice (FISR) 2025 di Kota Solo, Selasa (28/7/2025).

FISR mendorong adanya kolaborasi dalam mewujudkan sistem perberasan yang lebih berkelanjutan dan rendah emisi karbon di Indonesia.

Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional (BPN) Andriko Noto Susanto mengatakan Indonesia saat ini mengkonsumsi beras 92 kilo per kapita pertahun.

"Jadi setiap orang makan hampir 1 kuintal beras setiap tahun," terangnya, Selasa (28/7/2024).

Baca Juga:Waduh! Sidak di Pasar Gede Solo, Komisi IV DPR Temukan Beras SPHP Hilang di Pasaran

Andriko menjelaskan bahwa beras menjadi makanan pokok penduduk Indonesia. Selain beras penduduk Indonesia juga mengkonsumi terigu dan itu cukup besar juga.

"Kita itu memakan terigu hampir 14 kilo perkapita pertahun," kata dia.

Menurutnya karena beras menjadi sumber makanan pokok Indonesia maka adanya FISR ini sangat baik. Maka tidak hanya memproduksi beras dengan produktivitas tinggi dan beras tapi juga beras ini harus diproduksi dengan menerapkan kaidah-kaidah sistem pertanian yang baik dan rendah emisi karbon," paparnya.

Andriko mengatakan bahwa FISR ini sebagai ruang strategis untuk memperkuat komitmen bersama atas sistem perberasan yang lebih berkelanjutan.

Beras merupakan pondasi sistem ketahanan pangan nasional, namun saat ini kondisinya adalah sektor pertanian padi berkontribusi pada 43 persen dari total emisi sektor pertanian.

Baca Juga:Bulog Mulai Salurkan Bantuan Pangan Tahap III untuk 564.080 Keluarga di Solo Raya

"Pasa forum ini salah satu tujuannya adalah bagaimana memproduksi beras yang non karbon tidak hanya di hulu tapi juga sampai pengolahan pasca panennya. Kita menyambut baik dan mengapresiasi ini," ungkap dia.

Pada kesempatan ini, Andriko menyampaikan bahwa Indonesia saat ini kebanyakan lahan sawahnya dikelola petani-petani kecil. Yang punya lahan 0,5 sampai 0,8, bahkan ada yang sampai 0,24 per petani.

"Jadi sangat kecil. Artinya para petani ini harus dibela oleh pemerintah, produksinya harus dibeli dengan harga baik. Selain itu juga diajari bagaimana melakukan pengelolaan lahan yang baik," ujarnya.

Lalu untuk harga gabah, lanjut dia, dijamin Rp 6.500 perkilo. Itu tujuannya agar petani mendapatkan penghasilan yang baik.

"Karena di Indonesia hari ini jumlah lapangan pekerjaan yang paling besar di sektor pertanian tapi kantong-kantong kemiskinan juga ada di pedesaan yang mata pencahariannya petani," sambung dia.

Head of Cooperation, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam
Thibaut Portevin mengatakan forum ini menjadi momentum penting dalam mengonsolidasikan upaya lintas sektor menuju transformasi sistem pangan yang inklusif, resilien, dan rendah emisi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak