“Kami berupaya agar mereka bisa mengolah limbah dengan benar, sehingga kadar limbah saat sudah dibuang ke sungai itu sesuai standar atau malah bisa sepenuhnya tidak dibuang ke sungai. Kami memfasilitasi mereka dengan membangun IPAL (instalasi pengolahan air limbah) komunal. Tentu, biayanya tidak sedikit makanya semua pihak kami harap membantu. Mungkin CSR perusahaan,” bebernya, Rabu (8/9/2021).
Sejumlah usaha mikro dan kecil yang sudah membangun IPAL di antaranya pabrik tahu dan industri batik di Sragen dan Solo. Pihaknya menampik tidak berbuat apapun dalam menangani pencemaran Sungai Bengawan Solo.
“Kalau kami tidak ngapa-ngapain, mungkin akan lebih parah. Beberapa patroli yang kami lakukan terbukti efektif menekan pencemaran. Pekan lalu belum ada kejadian seperti pekan ini karena sejumlah penegakan hukum yang kami lakukan,” imbuhnya.
Dia berharap pegiat dan pemerhati lingkungan bisa berjalan bersama pemerintah daerah, provinsi, dan pusat untuk memikirkan masa depan Sungai Bengawan Solo.
Baca Juga:Polisi Telusuri Kasus Dugaan Pencemaran Limbah Ciu di Sungai Bengawan Solo