- Menteri Kebudayaan intervensi Keraton Solo untuk selamatkan cagar budaya, bukan urusan internal keluarga raja.
- Pemerintah menunjuk Tedjowulan sebagai fasilitator musyawarah karena kondisi keraton terbengkalai akibat sengketa.
- Polemik muncul mengenai dana hibah pemerintah yang dikelola melalui rekening raja, menimbulkan isu pertanggungjawaban keuangan.
SuaraSurakarta.id - Kemelut di Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) kembali memanas dengan klarifikasi tegas dari Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.
Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Fadli membantah pemerintah mencampuri urusan internal keluarga keraton, melainkan demi menyelamatkan aset cagar budaya dan memastikan pertanggungjawaban keuangan negara.
Namun, pernyataan ini justru memicu polemik baru terkait dana hibah.
Berikut adalah 7 fakta panas yang terungkap dari kemelut Keraton Solo:
1. Pemerintah Intervensi untuk Selamatkan Cagar Budaya, Bukan Urusan Internal Keluarga
Fadli Zon menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di Keraton Solo bukan untuk mencampuri konflik internal antara pihak Pakubuwono (PB) XIV Purbaya dengan PB XIV Mangkubumi.
"Kita berusaha juga buat intervensi karena kalau nanti dianggap membiarkan, negara tidak hadir. Tapi kita intervensi terutama untuk cagar budayanya, tapi bukan untuk yang terkait dengan urusan internal keraton keluarga," kata Fadli.
2. Penunjukan Tedjowulan sebagai Fasilitator, Bukan Penentu Raja
Terkait penunjukan Panembahan Agung Tedjowulan sebagai penanggung jawab pelaksana, Fadli menjelaskan bahwa posisi tersebut bukan untuk menentukan siapa yang berhak menjadi raja.
Baca Juga: Pendapatan Turun hingga 60 Persen Gara-gara Bajaj, Puluhan Driver Ojol Demo di Balai Kota Solo
"Kami menunjuk Panembahan Agung Tedjowulan sebagai pihak yang nanti memfasilitasi musyawarah keluarga. Jadi tetap, kalau keputusan itu ada pada musyawarah di antara keluarga," ujarnya.
Penunjukan ini mendesak karena kekosongan kepemimpinan tunggal dan kondisi aset cagar budaya yang memprihatinkan.
3. Kondisi Keraton Terbengkalai Akibat "Saling Gembok"
Salah satu alasan utama pemerintah harus turun tangan adalah kondisi fisik keraton yang terbengkalai parah.
"Saya sudah melihat kondisi Keraton Solo itu, bangunan-bangunan di belakang itu di luasan 8,5 hektar sebagai cagar budaya itu tidak terawat. Karena ada aksi saling menggembok, bahkan kita sudah membuat revitalisasi museum baru 25 persen, setelah itu digembok lagi," pungkas Fadli.
4. Polemik Dana Hibah Masuk Rekening Pribadi Raja
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Persis Solo Tunggak Sewa Stadion Manahan Rp 3,21 Miliar, BRM Kusumo Putro: Ini Memalukan!
-
Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar
-
Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi