SuaraSurakarta.id - Putra Raja Keraton Solo Sinuhun Paku Buwono atau P XIII, KGPAA Purbaya akhirnya memberikan klarifikasi terkait unggahan di fitur story Instagram (IG), Senin (3/3/2025).
Namun, Purbaya 'menghilang' dan hanya memberikan klarifikasi secara tertulis yang dibacakan oleh Pengageng Sasana Wilopo Keraton Kasunanan KP Dany Nur Adiningrat.
Sebelumnya, unggahan dengan tulisan 'Nyesel Gabung Republik' dan 'Percuma Republik Kalau Cuma Untuk Membohongi' menjadi viral dan sorotan publik.
"Bahwa sehubungan dengan pembahasan yang berkembang di berbagai media sosial maupun media massa terkait unggahan saya di fitur story Instagram. Dengan ini saya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram, menyampaikan klarifikasi guna memberikan kejelasan mengenai maksud dan tujuan dari unggahan tersebut," tulis pernyataan klarifikasi Gusti Purbaya, Senin (3/3/2025).
Baca Juga:Celine Evangelista Dapat Gelar dari Raja Keraton Solo, Prosesnya Bukan Main-main
Purbaya menjelaskan bahwa unggahan tersebut tidak lepas dari rangkaian unggahan sebelumnya.
Dalam hal ini berkaitan dengan perkembangan situasi terkini, khususnya soal pemberitaan mengenai kasus Pertamina yang menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat luas.
"Ekspresi kekecewaan tersebut saya tuangkan dalam unggahan diakun IG, salah satunya membuat pernyataan mengenai penyesalan bergabung dengan Republik. Pernyataan itu bukanlah cerminan dari hilangnya semangat nasionalisme, patriotisme, atau jiwa bela negara dalam diri saya, melainkan suatu bentuk kritik dan sindiran terhadap para penyelenggara negara saat ini," ungkap dia.
Purbaya mengatakan maksud dari unggahan itu untuk menyoroti tata kelola pemerintahan saat ini jauh dari harapan para leluhurnya.
"Padahal leluhur kami yang dahulu turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya.
Baca Juga:Tingalan Dalem Jumenengan ke-21 PB XIII Berlangsung Khidmat, Keraton Solo Ungkap Modifikasi
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya menceritakan soal para leluhurnya yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan bangsa dan negara.
Menurutnya Sri Susuhunan Pakoe Boewono VI (1823-1830), dan Sri Susuhunan Pakoe Boewono X (1893-1939) yang telah diakui sebagai Pahlawan Nasional, serta Sri Susuhunan Pakoe Boewono XII (1945-2004) yang dengan sukarela menggabungkan negerinya yang telah berdaulat ke dalam NKRI.
"Bahkan menyerahkan harta benda dan kekuasaannya demi tegaknya NKRI yang pada saat itu masih dalam tahap awal pembangunan," jelas dia.
Purbaya mengakui merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap tata kelola pemerintahan saat ini. Yang mana dinilai telah jauh menyimpang dari nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa, penyelenggaraan negara yang tidak mengindahkan kepentingan rakyat menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab terhadap amanah sejarah dan pengorbanan para pendahulu.
"Seharusnya para pemimpin negara memiliki kesadaran moral dan etika dalam mengelola pemerintahan demi kepentingan rakyat banyak," terangnya.
Purbaya juga mendorong agar seluruh generasi muda untuk meningkatkan kesadaran pada sejarah. Tidak hanya itu tapi ikut berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan ini dengan kebijakan serta tindakan yang bijaksana demi masa depan bangsa yang lebih baik.
"Saya menegaskan bahwa unggahan saya tersebut merupakan bentuk ekspresi kekecewaan sekaligus kritik terhadap kondisi pemerintahan saat ini," tandas dia.