Olahraga Boleh, Tapi Jangan Berlebihan! Ini Batasan Aman untuk Penderita Kelainan Jantung

Dokter menyebut kematian mendadak pada atlet muda bisa dicegah dengan rutin melakukanskriningterutama pada masalah kelainan jantung

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 04 Juli 2024 | 09:02 WIB
Olahraga Boleh, Tapi Jangan Berlebihan! Ini Batasan Aman untuk Penderita Kelainan Jantung
Ilustrasi olahraga (unsplash.com/jonathanborba)

SuaraSurakarta.id - Kematian mendadak saat olahraga menjadi perhatian banyak pihak pada akhir-akhir ini. Tentu, hal itu dipengaruhi oleh masalah pada jantung

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Universitas Indonesia dr. Utojo Lubiantoro, SpJP (K) mengatakan kematian mendadak pada atlet muda bisa dicegah dengan rutin melakukan skrining terutama pada masalah kelainan jantung.

“Karena kematian mendadak sebagian besar, sekitar 70 persen karena kelainan dari jantung meskipun tidak selalu, maka screening kesehatan jantung pada setiap atlet menjadi penting rutin dilakukan untuk menghindari kematian mendadak,” kata Utojo dikutip dari ANTARA pada Kamis (4/7/2024).

Deteksi kelainan jantung dapat diketahui secara dini melalui pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung dan EKG rekam jantung. Pada atlet muda, kejadian mati mendadak di lapangan sebagian besar disebabkan karena kelainan jantung bawaan atau genetik berupa Kardiomiopati Hipertrofi atau kondisi otot jantung yang menebal.

Baca Juga:Agar Penanganannya Tepat, Ini Gejala Serangan Jantung

Pada seseorang yang memiliki kelainan ini disarankan tidak melakukan olahraga berat karena dapat menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia) yang fatal, biasanya berupa Fibrilasi atau Takikardia Ventrikel. Pertolongan yang bisa dilakukan jika terjadi insiden ini adalah dengan alat kejut jantung atau defibrilator.

“Kalau terjadi fibrilasi atau takikardia ventrikel pengobatan cuma satu yaitu kejut listrik atau defibrilator, itu berlaku dalam lima sampai 10 menit awal,” katanya.

Utojo mengatakan pada seseorang yang mengalami kelainan jantung genetik pada level yang ringan tidak perlu diobati, namun jika pada level yang sedang hingga berat memiliki potensi komplikasi tidak hanya mati mendadak tapi juga jantung membesar atau gagal jantung.

Deteksi dini dengan tes treadmill akan menentukan pasien tersebut memiliki risiko mati mendadak karena ada gangguan fungsi jantung sehingga tidak diperkenankan menjadi atlet, olahraga terlalu berat dan harus ada perubahan gaya hidup.

“Olahraga boleh tapi nggak boleh yang berat, ada perubahan gaya hidup. Kalau kategorinya sudah berat kita sarankan jangan jadi atlet,” kata Utojo.

Baca Juga:Gejala Penyakit Jantung Bawaan Tergantung dari Usia, Balita dan Remaja Berbeda, Ini Penjelasan Dokter

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak