Ini Ciri-ciri Ibu Hamil Mengalami Stres atau Gangguan Mental, Ada yang Susah Tidur hingga Kebanyakan Tidur

Benarkah ibu hamil bisa mengalami stres atau gangguan mental?

Budi Arista Romadhoni
Senin, 22 April 2024 | 07:27 WIB
Ini Ciri-ciri Ibu Hamil Mengalami Stres atau Gangguan Mental, Ada yang Susah Tidur hingga Kebanyakan Tidur
Ilustrasi ibu hamil (pixabay.com)

SuaraSurakarta.id - Tak semua ibu hamil merasa bahagia, melainkan terdapat juga kehamilan membuat perempuan mengalami gangguan mental. Benarkah hal itu terjadi?

Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) Lenny Utama Afriyenti S.Psi M.Psi mengatakan gangguan mental yang terjadi pada ibu hamil perlu dikenali yang membuat perasaan ibu tidak nyaman dan ada gangguan pada aktivitas sehari-hari.

"Kalau pada ibu hamil khususnya ada perasaan tertekan sepanjang hari, ada insomnia atau hypersomnia, jadi kebanyakan tidur atau sulit tidur, kebanyakan makan atau sulit makan," kata Lenny dikutip dari ANTARA pada Senin (22/4/2024).

Lenny mengatakan perasaan stres umumnya memang terjadi pada kehidupan seseorang. Stres bisa berkembang menjadi permasalahan kesehatan mental jika terus menerus dipendam, tidak dikelola dengan baik, dan dialihkan ke masalah lain.

Baca Juga:Catat! Wanita Hamil Disarankan Tidak Konsumsi Daging Kambing Berlebihan, Ini Alasannya

Namun menurut data statistik, sebanyak 47 persen perempuan berisiko mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan laki-laki, dan 25,7 persen anak remaja perempuan melakukan self harm (menyakiti diri sendiri) ketika sedang menghadapi masalah.

Pengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ini mengatakan, normalnya ibu yang memiliki kesehatan mental yang baik idealnya memiliki suasana hati yang bagus, punya rasa humor dan melihat masalah jadi lelucon, memiliki kontrol diri yang baik, serta aktif dalam kemampuan sosialnya.

Namun jika ibu pascamelahirkan merasakan depresi dengan gejala kesehatan mental yang bermasalah selama 40 hari lebih, baiknya segera diperiksakan pada kepada ahlinya seperti psikolog atau psikiater agar tidak berdampak buruk pada anak.

“Kalau masih terjadi di atas 40 hari, berbulan-bulan masih merasa ada mood depresi, perasaan bersalah, ide bunuh diri, perasaan tidak berharga, mungkin harus segera diperiksakan ke psikiater atau psikolog,” katanya. 

Lenny juga mengatakan ibu pascamelahirkan yang mengalami depresi juga akan berdampak pada produksi ASI yang tidak optimal dan bisa berkurang. Selain itu, anak yang dilahirkan juga bisa jadi target pelampiasan ibu yang mengalami depresi.

Baca Juga:Ibu Hamil Sering Sembelit, Ternyata Ini Penyebabnya

Sebab itu perlu dukungan pasangan atau suami saat ibu sedang berjuang menyelesaikan masa tertekannya dalam menghadapi peran baru.

“Kalau kita merasa ada perasaan depresi kita periksakan agar tidak berdampak pada anaknya,” kata Lenny.  

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Benar-benar Asli Orang Jogja atau Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak