Kemudian dengan pendekatan budaya lokal Ki Ageng Henis menyiarkan agama Islam sehingga banyak orang yang menjadi hijrah atau mualaf menjadi muslim.
Di Desa Laweyan, Ki Ageng Henis juga membangun Masjid Laweyan tahun 1546, yang hingga kini masih difungsikan sebagai tempat beribadah umat Islam di Kampung Laweyan.
Selama di Laweyan, Ki Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat disana untuk membatik.
Bahkan ulama ini sukses menciptakan motif Batik Sido Luhur, yang dalam Bahasa Jawa Sido artinya jadi atau menjadi yang bermakna harapan atas tercapainya sebuah keinginan.
Baca Juga:Sejarah Arseto Solo, Klub Legendaris Milik Anak Presiden Soeharto yang Pernah Tembus Champions Asia
Sedangkan kata Luhur merupakan kata sifat yang artinya tinggi, terhormat dan agung.
Diharapkan, setiap pemakai motif batik tersebut memiliki sifat luhur yang mencerminkan kebesaran jiwa, menjadi teladan atau panutan.
Hingga kini motif Batik Sido Luhur masih dilestarikan oleh masyarakat Solo.
Bahkan batik jenis ini kerap digunakan masyarakat Jawa untuk pasangan yang melangsungkan pernikahan, khususnya untuk malam pengantin juga tradisi mitoni atau 7 bulan kehamilan.
Kehidupan dan kontribusi Ki Ageng Henis berfungsi sebagai bukti kekuatan iman, kebijaksanaan, dan pelestarian budaya yang abadi.
Baca Juga:Mengenal Sejarah Lokananta Solo, Studio Musik Tertua di Indonesia
Warisannya terus membentuk identitas orang Jawa, menginspirasi mereka untuk menjunjung tinggi tradisi mereka yang kaya dengan tetap menyebarkan agama Islam rahmatan lil alamin.