Budi Arista Romadhoni
Selasa, 07 April 2026 | 07:34 WIB
Ilustrasi ketegangan antarpetani di Sragen, Jawa Tengah. Ketegangan itu mulai memuncak akibat proyek normalisasi irigasi yang tak kunjung terealisasi. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Proyek normalisasi irigasi oleh DPU Sragen di Kecamatan Tanon belum terealisasi meskipun sudah dijanjikan sejak Maret 2026.
  • Warga Desa Jono membongkar saluran air secara sepihak pada 5 April 2026 akibat kerugian gagal panen berulang.
  • Aksi tersebut memicu konflik dengan Desa Gawan yang merasa dirugikan karena melanggar kesepakatan pengaturan pintu air.

SuaraSurakarta.id - Ketegangan antarpetani di Sragen, Jawa Tengah, mulai memuncak akibat proyek normalisasi irigasi yang tak kunjung terealisasi. Peristiwa ini terjadi di perbatasan Desa Jono dan Desa Gawan, Kecamatan Tanon, dan kini berkembang menjadi konflik horizontal yang melibatkan warga dua wilayah.

Aksi pembongkaran saluran air secara sepihak menjadi pemicu utama memanasnya situasi. Di balik itu, ada persoalan yang lebih dalam terkait lambatnya realisasi proyek dari pemerintah daerah. Berikut fakta-fakta penting yang perlu Anda pahami.

1. Proyek Normalisasi Mandek, Jadi Akar Masalah

Permasalahan ini bermula dari proyek normalisasi saluran irigasi yang hingga kini belum juga berjalan.

Padahal, proyek tersebut berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen dan sudah melalui tahap survei serta pengukuran lapangan.

Rencana awalnya, pengerjaan fisik akan dimulai pada Maret 2026. Namun hingga awal April, belum terlihat adanya aktivitas pembangunan di lokasi.

Kondisi ini memicu kekecewaan, terutama bagi petani yang sangat bergantung pada distribusi air yang stabil.

2. Petani Jono Bongkar Saluran Secara Sepihak

Puncak konflik terjadi pada Minggu (5/4/2026), saat warga Desa Jono melakukan aksi pembongkaran sebagian saluran air di wilayah perbatasan.

Baca Juga: Jadwal Azan Magrib dan Buka Puasa Kabupaten Sragen Minggu 22 Februari Lengkap dengan Doa

Langkah ini dilakukan sebagai solusi darurat untuk mengurangi genangan air yang terus merendam sawah mereka.

Menurut Sukardi, perwakilan petani Jono, tindakan tersebut diambil karena kondisi sudah terlalu lama dibiarkan tanpa solusi nyata.

“Kami membagi aliran air secara manual agar sebagian mengalir ke arah lain. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan petani tidak bisa terus menunggu,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Instagram @aboutsragen. 

Petani memilih bertindak langsung agar aliran air bisa terbagi dan tidak seluruhnya menggenangi lahan mereka.

3. Desa Gawan Bereaksi Keras, Anggap Langgar Kesepakatan

Aksi sepihak tersebut langsung mendapat respons keras dari Pemerintah Desa Gawan.

Load More