- Proyek normalisasi irigasi oleh DPU Sragen di Kecamatan Tanon belum terealisasi meskipun sudah dijanjikan sejak Maret 2026.
- Warga Desa Jono membongkar saluran air secara sepihak pada 5 April 2026 akibat kerugian gagal panen berulang.
- Aksi tersebut memicu konflik dengan Desa Gawan yang merasa dirugikan karena melanggar kesepakatan pengaturan pintu air.
SuaraSurakarta.id - Ketegangan antarpetani di Sragen, Jawa Tengah, mulai memuncak akibat proyek normalisasi irigasi yang tak kunjung terealisasi. Peristiwa ini terjadi di perbatasan Desa Jono dan Desa Gawan, Kecamatan Tanon, dan kini berkembang menjadi konflik horizontal yang melibatkan warga dua wilayah.
Aksi pembongkaran saluran air secara sepihak menjadi pemicu utama memanasnya situasi. Di balik itu, ada persoalan yang lebih dalam terkait lambatnya realisasi proyek dari pemerintah daerah. Berikut fakta-fakta penting yang perlu Anda pahami.
1. Proyek Normalisasi Mandek, Jadi Akar Masalah
Permasalahan ini bermula dari proyek normalisasi saluran irigasi yang hingga kini belum juga berjalan.
Padahal, proyek tersebut berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen dan sudah melalui tahap survei serta pengukuran lapangan.
Rencana awalnya, pengerjaan fisik akan dimulai pada Maret 2026. Namun hingga awal April, belum terlihat adanya aktivitas pembangunan di lokasi.
Kondisi ini memicu kekecewaan, terutama bagi petani yang sangat bergantung pada distribusi air yang stabil.
2. Petani Jono Bongkar Saluran Secara Sepihak
Puncak konflik terjadi pada Minggu (5/4/2026), saat warga Desa Jono melakukan aksi pembongkaran sebagian saluran air di wilayah perbatasan.
Baca Juga: Jadwal Azan Magrib dan Buka Puasa Kabupaten Sragen Minggu 22 Februari Lengkap dengan Doa
Langkah ini dilakukan sebagai solusi darurat untuk mengurangi genangan air yang terus merendam sawah mereka.
Menurut Sukardi, perwakilan petani Jono, tindakan tersebut diambil karena kondisi sudah terlalu lama dibiarkan tanpa solusi nyata.
“Kami membagi aliran air secara manual agar sebagian mengalir ke arah lain. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan petani tidak bisa terus menunggu,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Instagram @aboutsragen.
Petani memilih bertindak langsung agar aliran air bisa terbagi dan tidak seluruhnya menggenangi lahan mereka.
3. Desa Gawan Bereaksi Keras, Anggap Langgar Kesepakatan
Aksi sepihak tersebut langsung mendapat respons keras dari Pemerintah Desa Gawan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Cerita Paman Aldo, Penumpang Kapal Virgo Transport 8, Niat Bekerja untuk Bantu Orang Tuanya
-
Kisah Ahda Dhiyaurrohman, Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Solo, Nekat Merantau Tanpa Restu Ortu
-
Dewi Natalia, Mantri BRI yang 14 Tahun Dampingi Pedagang dan Lawan Jerat Rentenir
-
Warung Makan Non Halal di Sukoharjo Diduga Dibakar oleh OTK
-
Holding Ultra Mikro 5 Tahun, Jutaan UMKM Makin Berdaya