- Pengadilan Negeri Solo menolak permohonan KGPH Purboyo melegalkan nama gelar raja di Kartu Tanda Penduduk.
- Penolakan terjadi pada Kamis (11/12/2025) karena permohonan dinilai tidak memenuhi syarat formal dan berpotensi sengketa.
- Pemohon masih dapat mengajukan upaya hukum lanjutan berupa kasasi ke Mahkamah Agung terkait putusan tersebut.
SuaraSurakarta.id - Upaya Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purboyo, untuk melegalkan nama tahtanya di Kartu Tanda Penduduk (KTP) menemui jalan buntu.
Pengadilan Negeri (PN) Solo menolak permohonan perubahan nama tersebut dengan alasan yuridis yang kuat.
Permohonan ini diajukan untuk mengubah nama di KTP dari KGPH Purboyo menjadi nama gelar raja secara lengkap, yakni Sampeyan Dalem Ingkang Susuhunan Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) XIV.
Adanya permohonan dan putusan penolakan tersebut dibenarkan oleh Humas PN Solo, Aris Gunawan. Ia mengonfirmasi bahwa proses permohonan telah melalui persidangan dan diputus pada Kamis (11/12/2025).
"Oh nggeh. Jadi ada permohonan perubahan nama di dalam KTP. Iya itu yang mengajukan KGPH Purboyo," terang Aris saat dikonfirmasi, Jumat (12/12/2025).
Menurut Aris, majelis hakim yang menyidangkan perkara ini memiliki pertimbangan matang sebelum menolak permohonan tersebut.
Poin utamanya adalah permohonan itu dinilai tidak memenuhi syarat formal dan, yang lebih krusial, berpotensi menimbulkan sengketa di kemudian hari.
"Putusannya itu menetapkan, intinya menyatakan permohonan tidak dapat diterima," ungkap Aris.
Penolakan ini bukan tanpa dasar. Hakim berpendapat bahwa perubahan nama, terlebih yang menyangkut gelar dan kedudukan seorang raja, memiliki implikasi hukum dan sosial yang luas.
Baca Juga: KGPH Mangkubumi Akui Minta Maaf ke Tedjowulan Soal Pengukuhan PB XIV Sebelum 40 Hari
Pencatatan nama di dokumen negara seperti KTP haruslah didasarkan pada data yang pasti dan tidak berpotensi memicu konflik.
"Alasan tidak diterima itu karena hakim berpendapat bahwa apa yang dimohonkan oleh pemohon dalam permohonannya tidak memenuhi syarat formal mengenai perubahan nama," jelas Aris. "Karena itu dimungkinkan adanya suatu sengketa. Jadi permohonan itu tidak memenuhi syarat untuk perubahan nama."
Meski tak merinci bentuk sengketa yang dimaksud, penolakan ini mengisyaratkan adanya persoalan mendasar yang perlu diselesaikan terlebih dahulu di luar ranah pengadilan permohonan. Persoalan terkait suksesi dan legitimasi di internal keraton seringkali menjadi isu sensitif yang dipertimbangkan oleh lembaga hukum.
Dengan putusan ini, nama yang tercatat di KTP KGPH Purboyo tetap sama seperti semula. Namun, pintu hukum belum sepenuhnya tertutup. Aris menambahkan bahwa pihak pemohon masih memiliki kesempatan untuk menempuh jalur hukum yang lebih tinggi.
Pihak KGPH Purboyo bisa mengajukan upaya hukum berupa kasasi langsung ke Mahkamah Agung (MA) untuk menguji kembali putusan PN Solo.
"Kalau upaya hukum terhadap permohonan itu kasasi ya,” tandas dia. Langkah ini akan menjadi babak baru dalam upaya legalitas nama sang raja di mata administrasi negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- 5 Mobil Bekas 80 Jutaan dengan Pajak Murah, Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
Kunci Jawaban IPS Kelas 8 Halaman 175 Kurikulum Merdeka: Organisasi Pergerakan Nasional
-
Ketum PUI Raizal Arifin: Penguatan Polri Lebih Mendesak daripada Perubahan Struktur
-
Atlet Solo Raih 15 Medali di ASEAN Para Games 2025, Respati Ardi Bakal Berikan Fasilitas Khusus
-
Bajaj Maxride as Official Transportation Beautyphoria Goes to Luwes at Solo
-
5 Mobil Bekas Rp30 Jutaan yang Cocok untuk Guru Honorer: Solusi Ekonomis untuk Mobilitas Sehari-hari