Budi Arista Romadhoni
Selasa, 25 November 2025 | 18:43 WIB
Rasino, guru tuna netra di SMKN 8 Solo saat menyiapkan materi untuk mengajar. (Suara.com/Ari Welianto),
Baca 10 detik
  • Rasino, guru difabel tuna netra Solo, mengajar pedalangan dan karawitan di SMKN 8 sejak 2017, kini berstatus PPPK.
  • Ia mengajar dengan memanfaatkan media file digital karena keterbatasan penglihatan, tanpa menggunakan papan tulis konvensional.
  • Rasino menjadi satu-satunya guru tuna netra di SMKN 8 Solo dan membimbing siswa inklusi, termasuk empat siswa tuna netra.

SuaraSurakarta.id - Rasino (50), merupakan satu-satunya guru difabel tuna netra di Kota Solo yang mengajar di SMKN 8.

Di SMKN 8 Solo, Rasino mengajar dua kompetensi keahlian atau jurusan, yakni pedalangan dan karawitan. 

Meski memiliki keterbatasan fisik dengan tidak bisa melihat sejak lahir, tidak menyurutkan Rasino untuk bisa belajar dan mengajar. 

"Saya di SMKN 8 mengajar dua kompetensi keahlian atau jurusan pedangan dan jurusan karawitan," ujarnya saat ditemui di SMKN 8 Solo, Selasa (25/11/2025). 

Mengajar di SMKN 8 Solo, sudah sejak 2017 lalu sebagai GTT sampai 2025. Tapi sekarang per 1 Oktober 2025, Surat Keputusan (SK) sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sudah turun.

"SK saya pertama itu 2017 sebagai GTT. Sekarang alhamdulillah, per 1 Oktober 2025, SK PPPK saya sudah turun. Sebelumnya pernah mengajar tapi freelance," kata alumni ISI Solo jurusan Pedalangan ini.

Rasino mengaku merasa tersanjung dan bahagia sekali karena bisa mengajar meski punya keterbatasan fisik. Dari dulu memang tidak memiliki cita-cita sebagai guru, jadi guru hanya mengalir saja.

"Saya dulu nggak pernah bercita-cita menjadi guru. Mengalir saja gitu lah, tapi setelah dijalani ternyata ada kebanggaan tersendiri manakala melihat anak yang kita didik berhasil dan justru suatu kepuasan tersendiri ketika anak yang kita ajar kemampuannya melebihi saya dan itu sangat luar biasa," ungkapnya. 

Rasino mengajar di SMKN 8 Solo ini tidak mendaftar tapi diminta pihak sekolah. Sebelum di SMKN 8 mengajar di SLB, awalnya diminta untuk jadi pengiring di jurusan pedalangan tapi kemudian diangkat jadi guru.

Baca Juga: Bejat, Guru Ngaji di Sragen Cabuli Anak di Bawah Umur, Korban Mantan Murid Ngajinya

"Saya diminta mengajar di sini awalnya ditugasi menjadi pengiring di jurusan pedalangan sambil membantu ngajar. Kemudian berjalannya waktu diangkat sebagai guru, karena di sini juga menerima murid inklusi tuna netra juga lalu saya dipasrahi untuk menjadi pembimbing inklusi khusus tuna netra yang ngambil jurusan karawitan," papar dia.

Rasino, guru tuna netra di SMKN 8 Solo saat menyiapkan materi untuk mengajar. (Suara.com/Ari Welianto),

"Siswa inklusi di sini ada 10-11 anak. Kalau yang tuna netra ada 4 siswa, di jurusan karawitan dua siswa, dan jurusan musik ada 2 siswa," ucapnya.

Rasino memiliki metode pengajaran sendiri untuk mengajar anak-anak, yang jelas itu tidak pakai papan tulis. Tapi pakai media atau pakai file.

"Misalnya modul ajar, materi A itu saya format dalam bentuk file kemudian saya bagikan ke anak-anak. Jadi sekaligus saya memanfaatkan teknologi sesuai perkembangan yang ada," ungkap guru kelahiran Kebumen 17 Juli 1975 ini.

Untuk pembuatan materi, lanjut dia, buat sendiri atau mengambil buku pegangan guru yang sudah bentuk file. Terus di copi paste lalu ditambahi dan edit sana sini lalu dibagikan ke anak-anak.

"Itu buat materi sendiri, kalau sudah mentok saya minta bantuan teman, itu seperti yang ada kaitannya dengan visual," sambung dia.

Di jurusan pedalangan dan karawitan, Rasino mengajar sesuai ilmu yang dimilik. Di mana hanya titi laras atau vokal terus sama iringan, jadi tidak mengajar yang ranah visualnya. 

Meski sebagai penyandang tuna netra, itu tidak menyurutkan nya untuk terus belajar. Bahkan dari kecil sudah didik oleh orang tua untuk tidak pernah memperdulikan hal-hal yang sifatnya meremehkannya.

"Justru itu menjadi cambuk bagi saya ketika diremehkan bisa membuktikan bahwa saya bukan seremeh yang mereka bayangkan. Kalau secara verbal sejauh ini tidak ada yang meremehkan, mungkin cara melihat, memandang atau dibelakang saya, saya tidak tahu ya," sambung bapak dua anak ini.

Rasino penyandang tuna netra itu bawaan dari lahir. Untuk bergelut di dunia karawitan secara akademik sejak kuliah tapi kalau senang karawitan sejak kecil.

"Dulu kalau tuna netra itu lebih dekat dengan media dengar, seperti radio. Sementara kalau di Jateng pada umumnya banyak radio yang menyiarkan klenengan, wayang dan sebagainya," imbuhnya.

"Setelah beranjak remaja, karena merasa bahwa ini budaya musik kita ya gamelan ini. Siapa lagi yang mau memelihara atau melanjutkan kalau nggak kita," lanjut dia.

Untuk keluarga sangat support dan tidak ada masalah. Bahkan bapak itu yang paling support, bapak tidak memperlakukan dirinya sebagai tuna netra.

"Keluarga sangat support, bapak tidak memperlakukan saya sebagai tuna netra. Jadi misalnya, pekerjaan-pekerjaan oleh anak-anak normal itu saya juga diberi tugas, seperti nyuci piring, nyapu dan nyuci baju meski yang ringan-ringan itu sejak kecil sudah dibiasakan seperti itu," jelasnya.

Rasino menambahkan di SMKN 8 Solo mengajar kelas X, XI dan XII. Kalau kelas X mata pelajarannya titi laras sama iringan pakeliran, kelas XI dan XII mata pelajaran miji instrumen pilihan.

"Kalau di karawitan saya mengajar kelas XII ada 4 kelas, kelas XI ada 2 kelas. Jadi total saya mengajar 44 jam," ujar dia.

"Di sini guru yang tuna netra hanya saya, mungkin juga di Solo atau Jateng. Yang mau dengan suka ria sekolah menerima saya, cuma di SMKN 8 Solo," ucapnya.

Rasino minta kepada anak-anak difabel atau yang memiliki kekurangan fisik, jangan menganggap kekurangan itu sebagai hal pembatas. Jadi ada plus pasti ada minus, ada kelebihan pasti ada kekurangan.

"Itu sederhana saja, ada min pasti ada plus, ada kekurangan pasti ada kelebihan. Itu di dunia ini ada dua itu tidak mungkin Allah itu ngasih kekurangan tanpa memberikan kelebihan pada kita nggak mungkin, hanya kita sendiri yang nggak sadar," tandasnya.

Kontributor : Ari Welianto

Load More