- Klaim penerus Pakubuwono memicu sensitifitas karena Keraton masih terbelah dua raja berjalan bersamaan.
- KGPH Benowo menantang siapa pun bersumpah di Watu Gilang, titik legitimasi tertinggi Keraton.
- Watu Gilang sakral, penuh konsekuensi, dan jadi pusat kontroversi dalam dinamika suksesi Surakarta.
SuaraSurakarta.id - Keraton Surakarta kembali ramai dibicarakan setelah muncul klaim seorang tokoh yang menyebut dirinya penerus garis Pak Kebono.
Situasi ini langsung sensitif karena Keraton sendiri masih berada dalam kondisi dua raja yang berjalan bersamaan, yaitu Pakubuwono XIII versi Hangabehi dan versi Tedjowulan.
Di tengah dinamika itu, KGPH Benowo menantang siapa pun yang berani mengikrarkan diri sebagai raja atau pemimpin adat untuk melakukan sumpah langsung di Watu Gilang, tempat yang dianggap paling sakral untuk menguji legitimasi.
Ia menegaskan bahwa sumpah di sana bukan perkara simbol, karena secara turun-temurun dipercaya bisa berakibat fatal bagi mereka yang dianggap tidak jujur atau tidak berhak.
Kepercayaan terhadap Watu Gilang sudah mengakar lama. Batu ini dipandang sebagai titik legitimasi tertinggi, tempat raja atau tokoh adat mengucapkan ikrar jabatan.
Karena itu, ketika ada seseorang yang mengaku penerus namun bersumpah di lokasi lain, lalu disebut harus “naik” dan mengucapkan ikrar di Watu Gilang, kontroversi langsung muncul.
KGPH Benowo menyatakan siapa pun dipersilakan bersumpah jika merasa yakin, tetapi konsekuensinya ditanggung masing-masing.
Dengan bobot simbolik dan historisnya yang besar, wajar jika perdebatan terkait Watu Gilang terus memanas. Untuk memahami makna sakralnya, mari lihat 7 fakta penting tentang Watu Gilang.
1. Benda Pusaka dari Majapahit
Baca Juga: Wong Solo Merapat! Saldo DANA Kaget Rp299 Ribu Siap Bikin Hidup Makin Ceria, Sikat 4 Link Ini!
Dalam dokumen disebutkan bahwa Watu Gilang berasal langsung dari Majapahit. Artinya batu ini membawa garis legitimasi tua, bahkan terkait pusat kekuasaan terbesar di Nusantara.
Pemindahan pusaka seperti ini hanya dilakukan untuk simbol legitimasi raja, sehingga posisinya di Keraton Surakarta memiliki bobot otoritas yang besar.
2. Tempat Wajib Mengikrarkan Diri
Menurut KGPH Benowo, sumpah tidak sah bila dilakukan di tempat lain. Semuanya harus berlangsung di Watu Gilang. Siapa pun yang ingin menyatakan diri sebagai raja atau pemimpin adat harus berdiri di atas batu ini.
Karena itulah sejak masa leluhur, Watu Gilang menjadi titik sakral legitimasi para raja Pakubuwono.
3. Lokasi Sakral dengan Konsekuensi Berat
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Melihat Batik 'Rona Nusantara' Karya Syarif Abdillah, Siswa SMA Muhammadiyah 6 Surakarta
-
Bawaslu Solo Buka Suara Soal Ijazah Gibran di Pilkada 2020
-
Soal Ijazah Gibran, KPU Solo Tegaskan Sudah Lakukan Verifikasi Secara Faktual
-
Kiprah BRILink Agen Ria Irawan Topang Roda Ekonomi Petani dan Pengusaha Kelapa di Indragiri Hilir
-
Budaya Antikorupsi Diperkuat, BRI Gelar PELOPOR 2026 Bersama KPK