- Klaim penerus Pakubuwono memicu sensitifitas karena Keraton masih terbelah dua raja berjalan bersamaan.
- KGPH Benowo menantang siapa pun bersumpah di Watu Gilang, titik legitimasi tertinggi Keraton.
- Watu Gilang sakral, penuh konsekuensi, dan jadi pusat kontroversi dalam dinamika suksesi Surakarta.
Benowo menegaskan adanya risiko serius bagi mereka yang berani mengikrarkan diri sembarangan.
Ada kepercayaan bahwa Watu Gilang bisa membawa sakit atau bahkan kematian bagi pihak yang tidak layak atau tidak jujur. Unsur sakralitas ini menjadikan ikrar di atas batu tersebut sebagai ritual penuh konsekuensi moral dan spiritual.
4. Pernah Ditutup agar Tidak Disalahgunakan
Watu Gilang pernah ditutup agar tidak digunakan oleh orang yang tidak berkepentingan. Penutupan ini menunjukkan bahwa batu tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai objek biasa. Ia hanya dibuka bila ada upacara resmi atau prosesi penting, mempertegas eksklusivitas fungsinya.
5. Menjadi Tempat Penetapan Penerus Pakubuwono
Dalam catatan dan wawancara dijelaskan bahwa tokoh yang diklaim sebagai penerus telah mengikrarkan diri sebagai Pakubuwono di atas Watu Gilang, mengikuti tata cara yang diwariskan leluhur. Penyebutan urutan raja menunjukkan bahwa tradisi sumpah di Watu Gilang telah berlangsung sangat panjang dan terus dijaga.
6. Tidak Bisa Digantikan Ruang Sakral Lain
Meskipun Keraton memiliki ruang-ruang sakral seperti Oraisoning Sasono Sewoko, Oraisoning Sasono Ndrowino, dan Oraisoning Dalam Agung Prabowo Siyoso, semuanya tidak bisa menggantikan Watu Gilang sebagai lokasi penetapan resmi raja Pakubuwono. Batu ini tetap diperlakukan sebagai titik legitimasi tertinggi.
7. Tantangan Terbuka bagi Pihak Lain
Baca Juga: Wong Solo Merapat! Saldo DANA Kaget Rp299 Ribu Siap Bikin Hidup Makin Ceria, Sikat 4 Link Ini!
Pernyataan paling tegas muncul ketika KGPH Benowo menantang siapa pun yang mengaku sebagai raja Keraton untuk bersumpah langsung di Watu Gilang. Tantangan ini tidak disertai paksaan, tetapi seluruh risiko ditanggung pribadi. Ia menegaskan bahwa keluarga pihak lain sudah diberi tahu dan dipersilakan datang bila merasa berhak dan berani.
Kontroversi tentang Watu Gilang terus hidup karena ia bukan sekadar batu keramat, melainkan simbol legitimasi raja Pakubuwono dari masa ke masa.
Dari batu yang tampak sederhana itu lahir sumpah, keberanian, hingga dinamika suksesi yang berlangsung lintas generasi. Memahami Watu Gilang berarti memahami inti tradisi Keraton Surakarta yang tetap dijaga hingga hari ini.
Kontributor : Dinar Oktarini
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Viral Duel Parang di Pasar Klitikan Solo: 5 Fakta Mengejutkan, Korban Luka Parah di Wajah
-
Pasbata Sebut Saiful Mujani Offside, Pikirannya Bisa Berbahaya Seperti Ideologi PKI
-
Viral Rumah Jokowi dengan Tembok Ratapan Solo Muncul di Game Roblox
-
Siswa SMP di Sragen Tewas di Kamar Mandi Sekolah, Ini 7 Fakta Terbaru yang Terungkap
-
Publik Puas, Layanan Polri Jadi Sorotan Utama Suksesnya Mudik Lebaran 2026