SuaraSurakarta.id - Kota Solo dikenal sebagai kota kuliner, bahkan disebut juga sebagai kota keplek ilat.
Ada berbagai jenis makanan yang ada di Kota Solo, baik itu yang halal maupun non halal. Keberadaannya pun sudah ada sejak masa kolonial Hindia Belanda.
Hal itu membuat Kota Solo menjadi jujugan banyak orang dari berbagai daerah untuk mencari kuliner enak.
"Fakta kultural, sosial dan historis itu menyatakan bahwa Solo sudah teruji sebagai kota kuliner. Bahkan disebut juga sebagai kota keplek ilat," terang Sejarawan Heri Priyatmoko kepada Suara.com, Minggu (7/7/2024).
Menurutnya dengan adanya variasi makanan tersebut memunculkan bahwa Solo disebut surga kuliner. Itu sebagai gambaran bahwa kuliner yang ada itu enak-enak semua.
"Jadi bukan hanya persoalan kelengkapan atau komplitnya makanan. Tapi juga kenikmatan makanan yang itu sudah teruji secara fakta historis, fakta kultural dan fakta sosial," ungkap Dosen Sejarah Sanata Darma ini.
Keberadaan makanan non halal di Solo seperti daging anjing atau babi sudah ada cukup lama. Bahkan sampai sekarang masih bisa ditemui dan menjadi jujugan masyarakat luas.
Karena masyarakat Solo itu majemuk, ada Tionghoa, Jawa, hingga Arab. Sehingga mempunyai masing-masing makanan yang khas.
"Dulu bahkan di Solo itu ada ternak babi di salah satu kampung dipinggir sungai tapi sekarang sudah tidak lagi. Jadi ini sudah lama," katanya.
Baca Juga: Diprotes Ormas, Festival Kuliner Nusantara Non Halal di Solo Resmi Ditutup Sementara
Heri mengatakan Solo sebenarnya citranya sudah bagus, bahkan sekitar tahun 2016 atau 2016 itu Solo dinyatakan sebagai kota yang unggul dalam hal kuliner se-Indonesia. Itu sejajar dengan Bandung, artinya secara nasional Solo itu menjadi primadona di sektor kuliner.
"Dalam hal ini kementerian pariwisata sudah memberi sample bahwa Solo itu benar-benar surga kuliner. Jadi Solo itu unggulan utamanya kuliner bukan lagi keraton, apalagi wisata alamnya dan itu tidak punya," sambungnya.
Heri menyebut Solo disebut Solo sebagai surga kuliner itu sudah cukup lama, kalau ditarik ke belakang itu terwujudnya pada masa kolonial.
Di mana orang-orang Eropa waktu itu mempunyai waktu luang buat bersantai. Lalu sumbangan orang-orang etnis pribumi dalam hal ini jawa dan keraton itu juga memunculkan makanan.
"Jadi adanya waktu luang, waktu senggang terus ditambah lagi mempunyai uang yang banyak. Lalu ditambah lagi situasi Solo begitu nyaman, tidak ada peperangan," ceritanya.
Dengan kondisi atau faktor itu maka memunculkan Solo tumbuh makanan yang enak-enak atau warung. Bahkan ada pemahaman, orang golongan atas yang sakit itu akan ditawari mau makan apa biar sembuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Morinaga Soya Lanjutkan Soyalympic ke Yogyakarta dan Solo, Ajak Anak Berani Bereksplorasi
-
Isak Tangis Iringi Kepulangan Guntur, ABK Kapal Virgo Transport 8 yang Ditemukan di Dalam Kamar
-
Kenal Bulutangkis Sejak Usia 1,5 Tahun, Ini Perjalanan Peraih Emas Asian Games Leo Rolly Asal Klaten
-
BRI Peduli Wujudkan Harapan Murid Ini, Tak Lagi Terhalang Banjir Rob Saat ke Sekolah
-
Pengurus Cabang ORADO Kota Surakarta Dikukuhkan, Siap 'Memintarkan Indonesia' Lewat Olahraga Domino