Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Rabu, 13 Maret 2024 | 16:00 WIB
Masjid Saminah Sihyadi adalah salah satu masjid ada di Kota Solo, tepatnya di Kampung Gumunggung, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. [Suara.com/Ari Welianto]

SuaraSurakarta.id - Masjid Saminah Sihyadi adalah salah satu masjid ada di Kota Solo, tepatnya di Kampung Gumunggung, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. Masjid itu dibangun tahun 2022 lalu dan pertama dioperasikan untuk ibadah pada bulan Ramadan 2023 kemarin.

Masjid Saminah Sihyadi ini dibangun di zona yang dikenal banyak orang sebagai zona hitam. Karena di kawasan ini banyak preman, penjudi, pemabuk, PSK hingga waria.

Setelah masjid ini jadi, mereka pun  dirangkul untuk aktif masjid buat beribadah hingga mengikuti kajian.

Imam Besar Masjid Saminah Sihyadi, Abdul Fattah mengatakan Masjid Saminah Sihyadi ini dibangun di zona yang dikenal hitam.

Baca Juga: Catat! Pemkot Solo Wajibkan Usaha Hiburan Malam Tutup di Awal Puasa

Masjid ini dibangun dengan bentuk bulat yang merupakan circle. Tujuannya adalah mencirclekan bahwasanya Islam itu tidak eklusif, siapapun bisa masuk di masjid ini. 

"Filosofinya kita harus merangkul mengingat masjid ini dibangun di tengah-tengah zona hitam. Ini kan zona hitam, banyak preman, PSK hingga waria," teranya saat ditemui, Rabu (13/3/2024).

Abdul mengakui sejak masjid beroperasi hingga saat ini sudah punya binaan, 10 PSK, satu waria dan sebagian preman.

Masjid Saminah Sihyadi adalah salah satu masjid ada di Kota Solo, tepatnya di Kampung Gumunggung, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. [Suara.com/Ari Welianto]

Mereka pun dimasukan ke dalam pengurus Masjid Saminah Sihyadi dan mereka cukup aktif.

"Kita sudah punya binaan dan aktif di masjid. Ada kepala preman yang kita rangkul terus anak buahnya juga ikut ke sini, sebagian yang jaga parkir juga mantan preman," ungkap dia.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Kota Solo Rabu 13 Maret 2024, Lengkap Bacaan Niat Puasa Ramadan

Abdul punya cara untuk merangkul mereka agar mau ke masjid. Butuh waktu dua bulan untuk merangkul dan mengajak mereka beribadah.

Saat awal masjid selesai dibangun tahun 2023 lalu, ia menggelar karpet di halaman masjid malam hari sekitar pukul 20.30 WIB atau pukul 21.30 WIB.

Ia pun mengajak makan bersama mereka setiap hari dalam kurun waktu selama dua bulan.

"Caranya saya tidak serta merta mengajak langsung mereka untuk salat dan mengaji. Saya selalu rutinkan saat malam mengelar karpet di halaman masjid, kita makan-makan bersama setiap hari dalam kurun waktu dua bulan," katanya.

Awalnya itu yang datang baru lima orang kemudian berangsur-angsur sampai dengan total kurang lebih 51 orang. 

"Ngambilnya ketua-ketuanya terus mengajak anak buahnya. Mereka aktif datang ke sini untuk ibadah," sambung dia.

Abdul mengaku tidak merasa kesulitan untuk merangkul dan mengajak mereka. Karena poin utamanya itu tidak mengajak salat dan ngaji, tapi makan-makan dulu. 

"Tidak ada kesulitan, karena tidak langsung mengajak salat dan ngajak. Tapi makan-makan dulu, tak kenal maka tak sayang jadi perkenalan dulu," jelasnya.

Selama berkumpul dan ngobrol, kenapa terjun di dunia hitam karena tidak ada yang merangkul. Ada juga yang karena broken home terus kemudian terjun ke dunia hitam.

"Banyak cerita kenapa mereka terjun ke dunia hitam," imbuh dia.

Masjid Saminah Sihyadi ini memiliki keunikan. Selain bentuknya yang bulat, di bagian itu terbuka tidak pakai tembok tapi jendela-jendela dari kayu.

Masjid ini merupakan masjid yang terbuka, itu menandakan untuk semua kalangan dipersilahkan buat masuk tanpa ada status sosial.

"Ini tidak eklusif, kita terapkan konsep keterbukaan dan di sini 24 jam tidak ditutup. Jadi buka terus 1x24 jam, mau malam ke sini silahkan saja," ucapnya.

Lanjut dia, ini memang tidak ada temboknya karena konsepnya terbuka. Sehingga angin dari luar itu masuk terasa sejuk walaupun tanpa pendingin ruangan, dindingnya semua kayu.

"Jadi tujuannya itu supaya masjid tidak ada image eklusif dihadapan para umat utamanya non muslim," papar dia

Pada pintu utama punya motif tulisan bahasa Arab dan diapit pintu berbahan kaca. Lalu anak tangga di seluruh dinding dihiasi dengan kayu yang banyak lubang tipis di tiap bingkainya.

Masjid Saminah Sihyadi ini juga dikelilingi taman dan kolam ikan yang di atasnya ada pijakan persegi.

Sehingga terkesan teduh dan asri. Jamaah pun bisa melihat langsung bagian luar masjid.

"Di sini kan tidak ada AC, kipas jadi penghijauan kita perhatikan. Sehingga harus menghasilkan utara dan angin masuk, konsep kolam itu agar suasa masjid tetap dingin," tandasnya.

Kontributor : Ari Welianto

Load More