SuaraSurakarta.id - Kasus dugaan koripsu BUMDes Berjo, Kabupaten Karanganyar hingga saat ini tak kunjung muncul tersangka.
Padahal, Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar sudah memeriksa sejumlah saksi, termasuk hampir mengarah ke sosok tersangka.
Kondisi itu mendapat sorotam dari Lembaga Penyelamat Aset dan Anggaran Belanja Negara (Lapaan) Republik Indonesia.
Ketua Lapaan RI, BRM Kusumo Putro mempertanyakan kelanjutan kasus dugaan korupsi Bumdes Berjo hingga keseriusan Kejari Karanganyar.
Kusumo mengatakan, sekitar 8 bulan penanganan kasus dugaan korupsi Bumdes Berjo tersebut sudah berjalan sejak dilaporkan. Namun, hingga kini Kejari Karanganyar belum menetapkan satu pun tersangka.
“Kami Mempertanyakan kenapa sampai saat ini Kejari Karanganyar belum juga melakukan penetapan tersangkanya. Pemeriksaan saksi - saksi juga sudah selesai,” tegas Kusumo, Selasa (16/8/2022).
Menurutnya, kasus dugaan korupsi ini sudah terang benderang dan proses penangananan di Kejari Karanganyar juga sudah disampaikan secara terbuka ke publik.
“Lalu kenapa lamban sekali dalam menetapkan tersangka. Ada apa dengan Kejari Karanganyar? Kami pertanyakan kinerja dan keseriusan Kejari Karanganyar mengusut tuntas dugaan korupsi Bumdes Berjo,” urai Kusumo.
Menurut Kusumo bahwa kasus korupsi Bumdes Berjo adalah korupsi dengan jumlah kerugian negara terbesar yang pernah terjadi saat ini di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Muncul Dorongan Kota Solo Jadi Daerah Otonomi Khusus, Pemerhati Budaya: Pusatnya Kebudayaan Jawa
Kusumo mengungkapkan, kerugian negara yang ditimbulkan dengan adanya dugaan kasus korupsi dana Bumdes Berjo diperkirakan lebih dari Rp1,5 miliar. Dia menegaskan, Kejari Karanganyar untuk segera menyampaikan kepada publik berapa sebenarnya total kerugian negara.
Oleh karena itu, lanjut Kusumo, penetapan tersangka dan penegakkan hukum serta hukuman yang setimpal sesuai Undang-undang yang berlaku bagi para pelaku.
“Kasus korupsi Bumdes Berjo itu nantinya bisa menjadi contoh ribuan desa di seluruh Indonesia agar Pemerintah Desa melalui Kepala Desa tidak berani main-main dalam mengelola Bumdes,” tegasnya.
“Selain itu juga agar tidak seenaknya saja memakai dana Bumdes untuk kepentingan pribadi dengan mengorbankan kepentingan warga,” lanjutnya.
Kusumo memaparkan, dari data jumlah desa di Indonesia berdasarkan Kemendagri 050-145/2022 terinci jumlah wilayah administrasi pemerintahan dan pulau di seluruh Indonesia sebanyak 34 provinsi, 416 kabupaten, 98 kota, 7.266 kecamatan, 8.506 kelurahan, 74.961 desa, dan 16.722 pulau.
“Oleh karena itu penanganan kasus ini adalah ujian bagi Kejaksaan Negeri Karanganyar dalam penegakkan supremasi hukum di Kabupaten Karanganyar,” tegas Kusumo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ika Wonda Hattrick, MilkLife Strikers Buka Singa Cup 2026 dengan Kemenangan Telak
-
Latihan Jadi Pengusaha Digital, Santri di Solo Mimpi Buka Warung Pecel Lele
-
Persis Solo Tunggak Sewa Stadion Manahan Rp 3,21 Miliar, BRM Kusumo Putro: Ini Memalukan!
-
Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar