Saksi Hidup G30S Bongkar Peran Karno Gejik, Eksekutor PKI yang Catat Daftar Nama Warga untuk Dibunuh

HM Sungkar (22) mengenang peristiwa G30S/PKI di Solo 1965. Ia lolos dari cegatan PKI di Prambanan dan menemukan adik sepupunya tewas di RSUD dr Moewardi akibat dibantai PKI.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 01 Oktober 2026 | 07:49 WIB
Saksi Hidup G30S Bongkar Peran Karno Gejik, Eksekutor PKI yang Catat Daftar Nama Warga untuk Dibunuh
Saksi hidup peristiwa G30SPKI di Kota Solo, HM Sungkar saat ditemui. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • HM Sungkar dalam perjalanan pulang dari Magelang ke Solo dicegat oleh anggota PKI di Prambanan pada 22 Oktober 1965.
  • Sungkar menemukan jenazah adik sepupunya bernama Salim bersama korban pembantaian lain di RSUD dr Moewardi Solo.
  • Jenazah Salim berhasil diambil pihak keluarga dengan pengawasan ketat untuk kemudian dimakamkan di tengah situasi kota yang mencekam.

SuaraSurakarta.id - Peristiwa berdarah G30S/PKI tahun 1965 di Kota Solo masih menjadi ingatan bagi HM Sungkar, warga Kecamatan Pasar Kliwon tersebut.

Saat peristiwa tersebut, Sungkar masih berusia 22 tahun. Bahkan dalam peristiwa tersebut ada warga keturunan Arab menjadi korban, salah satunya adalah adik keponakannya bernama Salim.

Sebenarnya saat peristiwa pada hari Jumar, 22 Oktober 1965 tersebut, Sungkar tidak berada di Solo tapi di Magelang. Sungkar bersama keluarga pada malam hari pulang ke Solo.

Tapi saat berada di Prambanan dicegat oleh rombongan Pemuda Rakyat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menghadang masuknya tentara RPKAD. Namun bisa lolos dan sampai Solo.

Baca Juga:Cerita Paman Aldo, Penumpang Kapal Virgo Transport 8, Niat Bekerja untuk Bantu Orang Tuanya

"Saat peristiwa itu saat tidak melihat langsung. Saya waktu itu tanggal 22 Oktober nggak ada di Kota Solo, kebetulan saya pergi ke Magelang," ujarnya saat ditemui, Rabu (30/9/2026) sore.

"Pagi pergi ke Magelang dengan kakak, pulangnya itu malam. Jadi 22 malam itu saat kejadian di Kota Solo saya nggak ada, saya ada di Magelang," lanjut dia.

Diceritakan saat perjalanan pulang sampai di daerah Prambanan itu mobil yang dinaikinya diberhentikan oleh anak- anak PKI.

Sempat ditanya mau kemana dan dikasih tahu kalau Solo sedang ramai-ramainya serta geger.

"Saat perjalanan pulang sampai di Prambanan itu saya dihentikan oleh anak-anak PKI dan bilang 'Solo kacau'. Mereka belum menebangi pohon, setelah kami lewat jam 9-10 itu mereka menebangi pohon supaya pasukan RPKAD tidak bisa masuk, jadi dihadang dan pastinya takut banget," terangnya.

Baca Juga:Kisah Ahda Dhiyaurrohman, Korban Kapal Virgo Transport 8 Asal Solo, Nekat Merantau Tanpa Restu Ortu

Sampai di Kota Solo itu tengah malam sekitar jam 12-an dan kondisinya itu sepi lalu banyak bangunan yang dibakar. Terus sampai rumah dan menanyakan ke keluarga ada apa.

"Tengah malam sampai di Solo sepi dan ada bakar-bakar. Sampai di rumah saya tanyakan, loh ada apa terus dijawab ada peristiwa, gini-gini ceritanya, pada ditembaki," sambung dia.

Ia pun sempat menghubungkan ketika dirinya dihadang di Prambanan. Waktu itu dirinya bawa botol, mereka malah bilang mau ikut-ikut ya bikin bom molotov.

"Pokoknya ceritanya nggak enak tapi nggak apa-apa, yang penting diberi jalan menuju ke Solo," ucapnya.

Saat sampai rumah kakak dan adiknya bernama Novel Ali ternyata belum sampai rumah. Kakaknya bisa masuk ke Pasar Kliwon itu jam 12.30 malam, karena kacau dan mencekam hingga ada korban berjatuhan.

Bahkan kakaknya sempat kena tembakan tapi tidak apa-apa.

"Saya sempat tanya ke kakak kalau adiknya di mana dan ternyata tidak tahu. Kemudian mencoba mencari," tuturnya.

Saat paginya sekitar pukul 09.00 WIB dapat info, banyak mayat di RSUD dr Moewardi yang dibunuh sama PKI.

Bersama sejumlah orang sekitar pukul 10.00 WIB memberanikan untuk ke kamar jenazah. Saat masuk banyak mayat yang tergelak sekitar 19 anak, dari jumlah itu dipastikan ada adik sepupunya yang jadi korban.

"Jam 10 saya memberanikan diri datang ke kamat mati Jebres, saat masuk saya lihat beberapa anak yang tergeletak ada mungkin 19 anak. Salah satunya saya pastikan itu saudara saya, karena dipakai celana dalam dari sarung tenun 'saya lihat, loh itu saudaraku' saudara sepupu saya namanya Sallim ketika itu usianya 17 tahun," papar dia.

"Saya lihat itu Salim, lalu saya lihat lagi Arab satu karena mukanya itu lain sama yang lain bernama Alwi Hasan Assegaf. Jadi dua orang yang Arab. Lainnya 17 itu ada yang dibunuh di Kedung Kopi dan ditembak di Gladak," tuturnya.

Mereka yang meninggal itu kondisinya sangat memprihatinkan. Ada yang ditusuk dari leher tembus sampai di kepalanya, ada juga kemaluannya dipotong ditaruh di sabuk, itu membuatnya menangis sekaligus geram.

"Itu yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya ke rumah sakit itu bersama beberapa orang," kata dia.

Saat hendak mengambil jenazah dua anak dari Pasar Kliwon itu tidak mudah, karena penjagaan ketat oleh kepolisian dan pihak rumah sakit.

Namun hanya boleh mengambil jenazah yang dikenal, yakni saudara sepupunya kalau yang lainnya tidak boleh. Setelah diambil lalu dibawa ke rumahnya, bahkan bapak ibunya tidak mau melihatnya. 

“Jenazah adik saya Salim ini kami bawa, ketika itu jalan sepi sekali, kalau saya bilang kotanya-kota mayit,” kenangnya.

Diceritakannya itu saat Jumat 22 Oktober itu ada demo, kemudian ada oknum aparat datang dan menyampaikan ke gerombolan pemuda jika masalah ini sudah selesai dan agar kumpul di Balaikota Solo. 

Saat berjalan menuju Balaikota Solo bersama-sama, saat sampai di Gladak tepatnya di depan gereja, para pemuda dihadang dan ditembaki dari arah timur. 

Masa pun langsung bubar dan lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari tembakan tersebut. Ada juga yang dibawa ke Kedung Kopi lalu dieksekusi. 

Setelah peristiwa itu kemudian dilakukan sweeping atau pembersihan besar-besar anggota PKI di Kota Solo dan daerah lainnya.

Jadi dicari dan diburu, ditangkap oleh tentara maupun warga juga ikut membantu.

"Saya terus terang tidak ikut sweeping orang-orang PKI. Itu setelah peristiwa mencekam, sekitar sabtu atau minggunya," jelas dia.

Sungkar juga menceritakan sosok yang dikenal dan bertugas mencatat daftar target yang akan dibunuh oleh PKI. Sosok itu bernama Karno Gejik, yang memiliki cacat fisik.

Karno Gejik itu anggota PKI yang bertugas mencatat nama-nama orang Pasar Kliwon yang akan dibunuh. Tiga hari sebelum kejadian pembantaian 22 Oktober 1965, Karno Gejik terlihat di Pasar Kliwon sedang mencatat nama orang-orang yang menjadi target.

“Nama saya nggak ada, adik saya termasuk. Jadi didata nama-namanya. Itu teman permainan sebenarnya, anak-anak Pasar Kliwon pada kenal," tandasnya.

Sebelum peristiwa itu memang kondisinya sangat mencekam dan aktivitas itu tidak leluasa karena PKI berkuasa. Kegiatannya itu luar biasa.

"Waktu itu gerakan PKI terlalu berani banget," pungkas dia.

Kontributor : Ari Welianto

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak