Mengapa 1 Januari Jadi Awal Tahun Baru? Sejarah Panjang hingga Tahun Baru 2025

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan modern, tetapi berakar dari sejarah panjang yang melibatkan reformasi besar dalam sistem penanggalan.

Ronald Seger Prabowo
Jum'at, 27 Desember 2024 | 13:30 WIB
Mengapa 1 Januari Jadi Awal Tahun Baru? Sejarah Panjang hingga Tahun Baru 2025
Ilustrasi Kalender Januari 2025. [Unsplash]

SuaraSurakarta.id - Setiap kali kita menyambut Tahun Baru, termasuk Tahun Baru 2025 yang sudah di depan mata, mungkin muncul pertanyaan, mengapa 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun?.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan modern, tetapi berakar dari sejarah panjang yang melibatkan reformasi besar dalam sistem penanggalan.

Dari era Romawi kuno hingga reformasi Kalender Gregorian oleh Paus Gregorius XIII, tanggal ini telah melalui berbagai evolusi budaya dan agama hingga akhirnya diakui secara global.

Penetapan 1 Januari sebagai Awal Tahun Baru

Baca Juga:7 Tips Bakaran di Malam Tahun Baru Supaya Aman dan Enak

Penetapan 1 Januari sebagai awal Tahun Baru Masehi memiliki sejarah panjang yang berakar dari tradisi Romawi kuno hingga reformasi kalender oleh Paus Gregorius XIII.

Pada masa awal, kalender Romawi dimulai pada bulan Maret, dengan Maret sebagai bulan pertama dan Februari sebagai bulan terakhir.

Namun, pada tahun 153 SM, Senat Romawi memutuskan untuk memulai tahun baru pada 1 Januari. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan awal tahun dengan masa jabatan konsul yang baru dilantik, sehingga mereka dapat segera memulai tugasnya, termasuk kampanye militer, tanpa harus menunggu hingga Maret.

Selain itu, Januari diambil dari nama Dewa Janus, dewa permulaan dan akhir dalam mitologi Romawi. Bangsa Romawi merayakan 1 Januari dengan mempersembahkan kurban kepada Janus, berharap mendapatkan keberuntungan di tahun yang baru.

Pada tahun 46 SM, Julius Caesar memperkenalkan Kalender Julian, yang menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun.

Baca Juga:Catat Lur! 5 Kafe Buka 24 Jam di Solo, Cocok untuk Begadang di Malam Tahun Baru 2025

Reformasi ini bertujuan untuk menyelaraskan kalender dengan siklus matahari, menggantikan sistem lunar yang sebelumnya digunakan. Dengan demikian, 1 Januari semakin mengukuhkan posisinya sebagai awal tahun dalam tradisi Romawi.

Pengaruh Kristen dan Kalender Gregorian

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, banyak negara Kristen di Eropa mengubah awal tahun menjadi 25 Maret (Pesta Kabar Sukacita) atau 25 Desember (Natal) untuk mencerminkan signifikansi religius.

Namun, pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian untuk memperbaiki ketidaktepatan Kalender Julian.

Selain menyelesaikan masalah tahun kabisat, kalender Gregorian juga mengukuhkan tanggal 1 Januari sebagai awal Tahun Baru.

Meskipun Kalender Gregorian diperkenalkan pada tahun 1582, adopsinya tidak seragam di seluruh dunia. Negara-negara Katolik seperti Italia, Spanyol, dan Portugal segera mengadopsinya, sementara negara-negara Protestan dan Ortodoks menerimanya beberapa abad kemudian.

Inggris dan koloninya, misalnya, baru mulai mengikuti kalender Gregorian pada tahun 1752. Seiring waktu, kalender ini menjadi standar internasional, dan 1 Januari diakui secara global sebagai awal tahun baru.

Dengan demikian, penetapan 1 Januari sebagai awal Tahun Baru Masehi merupakan hasil evolusi tradisi budaya, reformasi kalender, dan konsensus internasional yang berkembang selama berabad-abad.

Kontributor : Dinar Oktarini

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini