Selanjutnya di lantai satu dipakai untuk tempat TPA ada dua ruangan dan ruang rapat. Untuk lantai dua dipakai sebagai tempat tempat salat perempuan.
Untuk dak atau yang paling atas itu dipakai buat menjemur karpet dan lainnya. Masjid Siti Aisyah ini juga terdapat toilet khusus difabel dan lift untuk jamaah yang kesulitan fisik.
"Jadi Masjid Siti Aisyah ini dibangun tiga lantai dengan fungsinya masing-masing," ungkapnya.
Sugiman mengakui memang Masjid Siti Aisyah ini dibangun full marmer baik di bagain dalam atau luar, untuk pintunya memakai kayu.
Baca Juga:Kuasa Hukum Korban Duga 'Permainan' Hakim di Sidang Praperadilan Eks Manajer Persis Solo
"Iya betul ini full marmer. Marmernya itu dari Indonesia bukan impor," kata dia.
Menurutnya Masjid Siti Aisyah ini dulu dibangun di daerah yang termasuk hitam. Dulu orang kalau malam hari lewat jalan depan masjid takut, karena gelap dan kemudian banyak 'kupu-kupu malam', sehingga terjadi peristiwa kriminal.
Kemudian bersama warga lain khususnya yang beragama Islam dikumpulkan untuk merangkul dan mengajak mereka.
"Dulu daerah ini termasuk daerah hitam. Lalu kami dikumpulkan dan membentuk wadah kegiatan kerohanian Islam, seperti pengajian, yasinan," ujarnya.
Kegiatan-kegiatan yang diadakan itu, lanjut dia, berhasil dan banyak yang tertarik. Adanya kegiatan itu lamban laun perkembangannya bagus, banyak yang datang.
Baca Juga:Jadwal Imsakiyah Kota Solo Kamis 14 Maret 2024, Lengkap Bacaan Niat Puasa Ramadan
"Saat bulan ramadan mengadakan salat tarawih di rumah saya karena masjidnya jauh. Setiap tahun diadakan dan jumlahnya semakin banyak akhirnya ada pengusaha Solo yang mengizinkan untuk salat tarawih dan kegiatan di pendopo rumahnya," papar dia.