alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Duh! Tak Kalah Ganas dengan COVID-19, DBD Sudah Renggut 4 Nyawa Warga di Klaten,

Budi Arista Romadhoni Rabu, 20 Oktober 2021 | 12:48 WIB

Duh! Tak Kalah Ganas dengan COVID-19, DBD Sudah Renggut 4 Nyawa Warga di Klaten,
Ilustrasi Nyamuk. Penyakit DBD sudah merenggut 4 nyawa warga klaten, ini yang akan dilakukan Pemda. (Pexels)

Penyakit DBD sudah merenggut 4 nyawa warga klaten, ini yang akan dilakukan Pemda

SuaraSurakarta.id - Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi momok penyakit musiman di Indonesia. Di Klaten kasus DBD sudah merenggut nyawa. 

DBD tak kalah ganasnya dengan virus Corona atau COVID-19. Warga di Klaten pun diminta tetap mewaspadai adanya penyakit yang datang dari gigitan nyamuk tersebut.

Warga yang mengalami panas tinggi diminta tak perlu takut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes). Agar korban penyakit tersebut bisa terkendali. 

Hal itu diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Wahyuning Nugraheni, Rabu (20/10/2021).

Baca Juga: Sedang Berzikir di Majid Raya Klaten, Sardiyono Kaget Rasakan Guncangan Gempa

Sepanjang Januari 2021-awal Oktober 2021, kasus DBD di Klaten telah mencapai 102 kasus dengan empat kasus kematian. Kasus kematian tersebar di beberapa kecamatan, seperti Ceper (dua orang), Kebonarum (satu orang), dan Klaten Selatan (satu orang). Seluruh warga yang meninggal dunia karena DBD masih berusia enam tahun-10 tahun.

“Warga yang mengalami panas tinggi enggak perlu takut datang ke faskes di tengah pandemi Covid-19. Lebih baik segera diperiksakan. Panas tinggi itu ketika suhu badan sudah di atas 38 derajat celcius. Enggak perlu takut di-covid-kan,” kata Wahyuning Nugraheni dikutip dari Solopos.com.

Wahyuning Nugraheni mengatakan di Klaten terdapat empat daerah yang tergolong endemis DBD. Masing-masing berada di Tlogorandu (Juwiring), Tlogo (Prambanan), Danguran (Klaten Selatan), dan Ketandan (Klaten Utara).

“Disebut endemis itu ketika di daerah tersebut ditemukan kasus DBD selama tiga tahun terakhir,” katanya.

Wahyuning Nugraheni mengatakan pencegahan DBD dilakukan dengan cara menggencarkan penyuluhan sekaligus terus mengedukasi ke masyarakat tentang pentingnya mengenali gejala DBD. Di samping itu, gencar memberikan pemahaman tentang gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,8 di Laut Selatan Pacitan, Guncangannya Sampai ke Klaten dan Wonogiri

“Sosialisasi terus kami lakukan [termasuk melalui media sosial]. DBD itu bisa menyerang siapa saja. Jadi harus diwaspadai. Jika suhu badan sudah 38 derajat celcius, itu sudah warning. Segera diperiksakan ke faskes terdekat. Kalangan orangtua harus jeli melihat anak-anaknya yang sakit panas juga,” katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait