Gegara Harga Cabai Rawit Meroket, Cabai Busuk Diserbu Masyarakat

Dampak mahalnya harga cabai rawit merah di pasaran membuat cabai rawit busuk laku alias diserbu konsumen.

Ronald Seger Prabowo
Jum'at, 05 Maret 2021 | 12:36 WIB
Gegara Harga Cabai Rawit Meroket, Cabai Busuk Diserbu Masyarakat
Penjual menjajakan cabai di pasar darurat di Karanganom, Klaten Utara, Jumat (5/3/2021). [Solopos-Ponco Suseno]

SuaraSurakarta.id - Dampak mahalnya harga cabai rawit merah di pasaran membuat cabai rawit busuk laku alias diserbu konsumen. Kondisi itu terlihat di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Klaten.

Seorang penjual cabai rawit di Pasar Darurat di Karanganom, Klaten Utara, Sumarni (55) dilansir Solopos.com--jaringan Suara.com membenarkan fakta tersebut.

Menurutnya, cabai rawit yang mulai membusuk juga laku keras di pasaran. Bahkan, cabai yang mulai membusuk lebih laku di pasaran dibandingkan cabai rawit yang berkualitas baik.

"Cabai yang pateken atau ada busuknya sedikit tetap laku. Cuman harganya lebih rendah dari cabai kualitas normal. Biasanya Rp 30.000 per kilogram. Setiap hari, saya bisa menjual cabai seperti itu 10 kilogram. Cabai seperti itu tetap laku karena harganya murah. Rasanya juga tetap pedas," kata Sumarni.

Baca Juga:Kondisi Alfian Usai Dua Tangannya Diamputasi Akibat Kecelakaan Saat PKL

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Klaten mulai menggila dalam 10 hari terakhir. Sejak saat itu, harga cabai rawit terus meroket.

Harga cabai rawit tiap kilogram berawal dari Rp 50.000 per kilogram, Rp 60.000 per kilogram, Rp 65.000 per kilogram, Rp 75.000 per kilogram, hingga mencapai Rp 110.000 per kilogram.

Sumarni menduga mahalnya harga cabai rawit itu disebabkan banyaknya petani yang gagal panen menanam cabai di tengah musim hujan. Sehingga, cabai di pasaran relatif langka.

"Harga cabai rawit terus berubah-ubah dalam 10 hari terakhir. Hari ini, harga cabai rawit masih di angka Rp110.000 per kilogram. Meski relatif tinggi, tetap ada yang membeli. Cuman, belinya tidak seperti biasanya. Jika biasanya membeli satu kilogram per hari, jadi setengah kilogram per hari," ungkapnya.

Salah seorang pembeli cabai rawit di pasar tradisional, Umi (55), mengaku tetap harus membeli cabai setiap harinya. Sehari-harinya, Umi berjualan nasi tumpang yang membutuhkan cabai.

Baca Juga:Harga Cabai Merah Besar di Sragen Berubah 3 Kali dalam Sehari, Kok Bisa?

"Saya tahu harga cabai sangat tinggi sekarang ini. Tapi, saya tetap membeli. Soalnya memang butuh. Di tengah harga seperti ini, saya hanya membeli cabai rawit seperempat kilogram per hari," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak