- Riset Economist Enterprise yang didukung Bayer mengungkapkan praktik self-care berpotensi memberikan manfaat ekonomi global sebesar US$179 miliar per tahun.
- WHO menyatakan bahwa praktik self-care harus diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan formal guna mengatasi tekanan global dan memperluas layanan kesehatan.
- Negara-negara seperti Jerman dan Indonesia telah menerapkan pendekatan integrasi self-care untuk mendorong gaya hidup sehat dan mengurangi beban fasilitas kesehatan.
SuaraSurakarta.id - Praktik perawatan kesehatan mandiri atau self-care dinilai dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperluas akses layanan kesehatan, sekaligus mengurangi beban sistem kesehatan jika diintegrasikan secara efektif ke dalam layanan kesehatan formal.
Hal tersebut terungkap dalam riset terbaru Economist Enterprise berjudul Making Self-Care Work: Integrating Self-Care into Health Systems.
Riset yang didukung Bayer itu mengutip sejumlah data yang memperkirakan praktik self-care berpotensi memberikan manfaat ekonomi hingga sekitar US$179 miliar per tahun. Praktik tersebut juga dinilai dapat membantu negara dalam mencapai target Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC).
Riset itu dilakukan di tengah meningkatnya tekanan terhadap sistem layanan kesehatan global akibat pertumbuhan populasi lanjut usia, meningkatnya penyakit kronis, keterbatasan tenaga medis, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan.
Dalam kondisi tersebut, self-care semakin dipandang sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan hasil kesehatan (health outcomes), memperluas akses layanan, dan membangun sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan.
Namun, riset tersebut menekankan bahwa self-care akan memberikan manfaat optimal apabila terintegrasi dengan baik ke dalam sistem kesehatan formal. Integrasi itu perlu didukung informasi yang terpercaya, akses yang terjangkau, serta sistem rujukan yang jelas.
Dr Manjulaa Narasimhan, Scientist pada Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing, World Health Organization (WHO), mengatakan self-care merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan.
“Self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan. Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang,” ujarnya dalam riset tersebut.
Self-Care Bukan Pengganti Sistem Kesehatan
Baca Juga: Mahasiswa dan Pelajar Muhammadiyah Gelar Aksi Damai, Ada Cek Kesehatan Gratis hingga bagi Sembako
Dalam riset tersebut, WHO mendefinisikan self-care secara luas sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, mempertahankan kesehatan, serta mengatasi masalah kesehatan, baik dengan maupun tanpa dukungan tenaga kesehatan.
Praktiknya mencakup berbagai aktivitas, mulai dari penerapan pola hidup sehat dan pencegahan penyakit hingga pemanfaatan teknologi digital, pemantauan kondisi kesehatan secara mandiri, serta penggunaan obat bebas atau over-the-counter (OTC).
Meski demikian, cakupan self-care yang luas juga menghadirkan tantangan, terutama dalam hal tata kelola, pengukuran hasil, serta konsistensi penerapannya dalam sistem kesehatan di berbagai negara.
Riset Economist Enterprise menegaskan bahwa self-care seharusnya menjadi bagian yang melengkapi sistem kesehatan, bukan menggantikannya. Dengan dukungan informasi yang tepercaya, akses yang terjangkau, dan jalur rujukan yang jelas, self-care dinilai mampu memperluas akses layanan kesehatan, memperkuat pencegahan dan intervensi dini, meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan, serta mengurangi tekanan terhadap fasilitas kesehatan.
Julio Triana, Member of the Bayer Board of Management sekaligus President Consumer Health, mengatakan solusi self-care, termasuk perangkat digital, obat bebas yang aman dan terjangkau, suplemen nutrisi, serta informasi edukatif, dapat berperan dalam mengatasi kesenjangan layanan kesehatan.
“Self-care yang kredibel dapat membantu memperluas akses dan memperkuat sistem kesehatan. Namun, hal ini harus didukung oleh informasi berbasis bukti, standar yang ketat, serta jalur rujukan yang jelas menuju perawatan profesional,” kata Julio dalam wawancara dengan Economist Enterprise terkait masa depan self-care.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen
-
Air Makin Langka, Warga Sukoharjo Terpaksa Mandi Sehari Sekali demi Berhemat
-
Pre Order di Blibli Tanggal 22 Juli Hingga 13 Agustus, Lihat Kelebihan Samsung Galaxy Z Flip 8
-
Pembukaan Akses Secara Paksa, Kubu PB XIV Purboyo Tegas akan Lawan Usai dapat Ancaman dan Intimidasi
-
Hari Anak Nasional 2026, BRI Peduli Tanamkan Karakter dan Wawasan Anak