- Sebanyak 336 jiwa di Desa Kunden, Sukoharjo, mengalami krisis air bersih sejak empat bulan lalu.
- Warga terdampak harus berjalan dua kilometer atau mengandalkan bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
- Kepala Desa Kunden menyatakan letak geografis di puncak gunung menjadi penyebab utama kekeringan berulang.
SuaraSurakarta.id - Kemarau belum mencapai puncaknya, tetapi ratusan warga di lereng perbukitan Desa Kunden, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo sudah lebih dulu berjuang melawan krisis air bersih. Setiap tetes air kini menjadi barang berharga. Sebagian warga bahkan terpaksa mandi hanya sekali sehari demi menghemat persediaan.
Sedikitnya 99 kepala keluarga atau 336 jiwa di Dusun Kepuh dan Dusun Sumberagung kini bergantung pada bantuan droping air bersih.
Sumur-sumur warga mengering, sementara satu-satunya mata air yang tersisa tak lagi mampu memenuhi kebutuhan dua dusun.
Salah seorang warga, Cipto Miharjo (70), mengatakan kekeringan telah berlangsung sekitar empat bulan terakhir. Ketika bantuan air belum datang, warga terpaksa berjalan hingga dua kilometer atau menggunakan sepeda motor menuju dusun lain hanya untuk mendapatkan air.
"Ini kekeringan, tidak ada air. Kalau ngangsu di dusun sebelah jaraknya sekitar 1-2 kilometer. Kadang jalan kaki, kadang naik motor juga," ujar Cipto, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, kini hanya tersisa satu sendang yang harus melayani kebutuhan warga dari dua dusun sekaligus.
"Sendangnya hanya satu untuk Dusun Kepuh dan Dusun Sumberagung. Padahal jumlah kepala keluarganya banyak," katanya.
Upaya membuat sumur sebenarnya sudah pernah dilakukan. Namun, hasilnya nihil karena sumber air di kawasan tersebut sangat sulit ditemukan.
"Nggak ada. Ada yang buat sumur, tapi sumber airnya memang tidak ada," ucapnya.
Baca Juga: Ini Respon DPC PDIP Sukoharjo Usai Etik Suryani Ditangkap KPK
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi satu-satunya harapan warga untuk bertahan hidup.
"Jelas sangat terbantu. Air ini dipakai buat masak, mencuci, mandi, minum, semuanya. Kadang kalau tidak ada bantuan ya beli air yang keliling," katanya.
Cerita serupa disampaikan Darmanto. Ia mengatakan persoalan air bersih bukan lagi masalah musiman, melainkan sudah menjadi persoalan yang terus berulang setiap kemarau datang.
Menurutnya, debit air di sendang terus menurun. Program penyediaan air bersih yang dulu sempat berjalan juga kini tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga.
"Dulu sempat ada PAM dari sumur dan airnya lancar. Sekarang tiba-tiba susah, kurang tahu kenapa," ujarnya.
Kini sebagian warga bergantung pada bantuan pemerintah, sementara yang lain harus mencari air ke kampung tetangga atau membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Wisata Candi Plaosan Kian Bergeliat, UMKM Desa Bugisan Raup Kenaikan Pendapatan 31 Persen
-
Air Makin Langka, Warga Sukoharjo Terpaksa Mandi Sehari Sekali demi Berhemat
-
Pre Order di Blibli Tanggal 22 Juli Hingga 13 Agustus, Lihat Kelebihan Samsung Galaxy Z Flip 8
-
Pembukaan Akses Secara Paksa, Kubu PB XIV Purboyo Tegas akan Lawan Usai dapat Ancaman dan Intimidasi
-
Hari Anak Nasional 2026, BRI Peduli Tanamkan Karakter dan Wawasan Anak