- Pergeseran pola konsumsi digital menyebabkan lagu anak kini semakin jarang ditemukan dan mulai digantikan oleh lagu dewasa.
- Galeri Lokananta menggelar pameran Senang Riang Lagu Anak pada Mei hingga Juli 2026 sebagai sarana edukasi bagi keluarga.
- Pameran ini bertujuan melestarikan arsip lagu anak yang kaya nilai moral untuk mendukung tumbuh kembang serta imajinasi anak.
SuaraSurakarta.id - Salah satu pergeseran yang begitu terasa dari pola konsumsi musik digital adalah keberadaan lagu anak yang tidak lagi teridentifikasi secara gamblang.
Di era kaset pita distribusinya jelas. Ketika sebuah keluarga berkunjung ke toko kaset, masing-masing anggota keluarga dapat memilih sesuai preferensi. Sekat yang jelas memberi koridor bahwa lagu anak memiliki karakteristik yang khas.
Kebijakan politik yang digariskan oleh Orde Baru menyemai nilai moral dan edukasi sebagai poin utama dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia.
Semarak industri pertelevisian menghadirkan berbagai tayang dengan membawa serta idola cilik sebagai sosok yang berprestasi dan memberi kebanggaan keluarga. Nama-nama seperti Eno Lerian, Trio Kwek-Kwek, Joshua, Bondan Prakoso hingga sosok Kak Ria Enes dan Susan dikenal luas. Tak terkecuali, sang pencipta lagu legendaris Papa T. Bob.
Pasca tahun 2000 situasinya berbalik 180 derajat. Batas dunia hiburan semakin kabur. Penggunaan perangkat laptop, tablet dan ponsel pintar memberi keleluasaan bagi anak-anak mengkonsumsi berbagai hal.
Di sisi lain ketiadaan ruang komunikasi antar generasi dan sikap permisif orang tua yang semakin sibuk dengan berbagai tuntutan serta tekanan menambah pelik permasalahan. Tidak berlebihan jika sejumlah kalangan menilai bahwa lagu anak semakin menghilang.
Alih-alih membawakan lagu-lagu yang bersifat sederhana, irama ceria, edukatif dan mudah dilagukan, anak-anak saat ini justru tak sungkan membawakan lagu-lagu dewasa yang identik dengan hubungan lawan jenis serta ekspresi bebas layaknya remaja dan bahkan manusia dewasa.
Berkaca dari fenomena tersebut, Lokananta menggelar pameran yang bertajuk Senang Riang Lagu Anak Lokananta. Pameran ini tidak lepas dari inisiasi Gutami Hayu P yang di kesehariannya bertugas sebagai salah satu guide di Galeri Lokananta.
"Koleksi lagu anak Lokananta menyimpan ragam irisan. Selain kuat sebagai karya musik untuk anak-anak, juga turut menjadi medium belajar dan eksplorasi dunia anak yang lekat akan pengetahuan kognitif, motorik, empati, alam, hingga imajinasi," kata Gutami Hayu P, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: Otofest Pertama di Boyolali: Puluhan Mobil Modifikasi Dipamerkan, Sukses Pukau Pengunjung
Gagasan tumbuh dari perjumpaan bersama anak-anak saat sesi tur berlangsung sebagai bagian dari perjalanan riset. Di antaranya Raya dan Raka, pengunjung berusia 10 tahun, yang mengingatkan pentingnya akses pengetahuan relevan dan partisipatif bagi anak.
Dengan nada sopan, di Ruang Pertama Galeri Lokananta, Raya menginterupsi sembari bertanya, “Maaf, Kak Tami. Di mana koleksi yang tidak ada garis kuningnya—yang bisa dipegang dan dimainkan?”. Pertanyaan sederhana itu memperlihatkan besarnya rasa ingin tahu anak terhadap “pengalaman” belajar.
Momen kecil ini memperlihatkan perihal anak yang memandang Lokananta sebagai ruang eksplorasi hidup. Memungkinkan produktivitas pengetahuan untuk terus berlangsung, lewat pembacaan arsip-arsip yang relevan atas zaman. Pembacaan arsip Lokananta tentu tidak bisa dilihat secara mentah dan apa adanya, perlu kehadiran subjek penuh.
Misalnya, penentuan kurasi lagu non Jawa, pengurangan lagu dengan kesan ibuisme khas Orba, dan prioritas simbol serta warna (bukan tulisan) melalui display. Ketiganya adalah tawaran alternatif menerjemahkan arsip. Demi mewujudkan spirit “taman bermain” yang perlu diwujudkan untuk mendudukkan orang dewasa dan anak dalam perspektif tumbuh dan belajar.
Selaku Kurator Galeri Lokananta, Caroline Darmawan menyampaikan bahwa pameran ini memiliki arti penting. Ia menyadari bahwa Lokananta belum pernah menyajikan konten pameran yang ditujukan secara khusus bagi anak-anak ataupun keluarga.
Sementara Lokananta memiliki keragaman arsip musik, salah satunya lagu anak. Fokus utama pameran ini juga tidak lepas dari kekhawatiran bahwa kian hari lagu anak makin jarang diperdengarkan di ruang belajar, mulai dari formal, non-formal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar
-
Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak
-
Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi
-
Undangan Sudah Diterima, Jokowi dan Ajudan Tegaskan Bakal Hadir Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo
-
Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'