Budi Arista Romadhoni
Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:43 WIB
Massa mahasiswa Soloraya saat menggelar aksis di Kota Solo. (Suara.com/Ari Welianto).
Baca 10 detik
  • Ratusan mahasiswa dari Aliansi BEM Soloraya melakukan aksi unjuk rasa di Solo pada Rabu, 28 Oktober 2026.
  • Massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan, termasuk mendesak penetapan karhutla sebagai bencana nasional dan penurunan biaya pendidikan.
  • Aksi lanjutan tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap oligarki serta pemerintahan yang dinilai menyengsarakan masyarakat kelas bawah.

SuaraSurakarta.id - Ratusan mahasiswa menggelar aksi dengan menutup Jalan Slamet Riyadi Solo tepatnya di Perempatan Ngarsopuro, Rabu (28/10/2026) sore. 

Massa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi (PT) di Soloraya ini longmarc dari Jalan Slamet Riyadi menuju Jalan Slamet Riyadi tepatnya di Perempatan Ngarsopuro. Sampai di Perempatan Ngarsopuro, massa menggelar orasi dari perwakilan mahasiswa sambil menutup jalan dengan membentuk lingkaran besar.

Selanjutnya massa melakukan longmarch menuju Bundaran Gladak. Selama longmarch, massa membawa spanduk dan poster dengan berbagai tulisan.

'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan', 'Tetapkan Karhutla Menjadi Bencana Nasional', 'Turunkan Biaya UP', 'Tetapkan Pra-Gib Bencana Nasional'. 

Tiba di Bundaran Gladak, massa aksi kembali melakukan orasi dari perwakilan mahasiswa. Mereka juga memanjat dan membentangkan spanduk dan poster di patung Slamet Riyadi. 

Aksi ini merupakan aksi lanjutan yang sebelumnya digelar di Bundaran Kartasura Sukoharjo.

"Iya, aksi sebelumnya di Tugu Kartasura. Ini merupakan aksi lanjutannya," terang salah satu koordinator aksi dari ISI Solo, Yoga Azka Nugraha saat ditemui, Rabu (28/10/2026).

Yoga menjelaskan ada sejumlah point yang menjadi tuntutan dari mahasiswa di aksi hari ini. Salah satunya itu  mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, lalu mewujudkan APBN untuk kepentingan rakyat hingga menurunkan biaya pendidikan.

"Aksi kedua ini lebih kepada penguatan, seperti menagih janji dan merawat ingatan. Biasanya, setelah aksi, orang-orang sudah lupa. Nah, kami ingin mengingatkan kembali bahwa persoalan-persoalan seperti ini belum selesai," paparnya.

Selain itu mahasiswa juga meminta penghentikan penyalahgunaan hukum serta memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Kemudian mengembalikan kebebasan bersuara, mengadili pelanggar HAM, dan menghentikan militerisasi di ruang sipil.

Pada aksi tersebut, masa juga menggaungkan simbol tiga jari. Itu sebagai simbol perlawanan, mereka juga meneriakkan revolusi 

Yoga menambahkan aksi tersebut diikuti mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang tergabung dalam Aliansi BEM Soloraya, seperti Universitas Sebelas Maret (UNS), ISI Surakarta, dan Tiga Serangkai University (TSU).

"Ini sebagai simbol perlawanan terhadap oligarki dan pemerintahan yang menyengsarakan masyarakat kelas bawah," tandas dia.

Kontributor : Ari Welianto

Load More