- Daya beli hewan kurban di Karanganyar dan Soloraya menurun sekitar 20 persen pada Idul Adha 2026.
- Kondisi ekonomi lesu serta kenaikan harga pakan dan hewan kurban menjadi penyebab utama penurunan permintaan tersebut.
- Peternak membatasi stok hewan karena khawatir terhadap risiko penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku yang masih menghantui.
"Harga pakan dan nutrisi itu sama mengikuti juga. Lebih banyak kelompok yang beli daripada pribadi," jelasnya.
Kalau kambing justru naik, ini sudah terjual 150 ekor. Harga jual juga naik 40-50 persen, dari Rp 1 juta menjadi Rp 1,8 juta hingga Rp2 juta.
"Kemungkinan masyarakat pilih kambing untuk kurban. Karena lebih murah jika dibandingkan sapi yang mahal. Tapi setiap orang beda-beda tidak sama dalam kurban," ucap Anggit.
Hal senada juga disampaikan peternak Bambang Purnomo yang menyebut permintaan masyarakat naik. Tapi stoknya yang terbatas, karena masih takut sama PMK.
"Tahun kemarin isi kandang lebih 10 ekor dan terjual semua. Kalau sekarang hanya 5 ekor saja. Permintaan sebenarnya banyak sekali, tapi PMK itu menakutkan," tandas dia.
"Kalau sapi besar kena PMK kita yang nangani sulit. Dulu waktu punya sapi 30 ekor, itu satu kandang tumbang semua dan sembuh tapi harga jual turun," imbuhnya.
Bambang mengaku untuk tahun ini memang ada kenaikan harga sapi, naiknya itu Rp 2 juta hingga Rp 3 juta perekor.
Untuk makanan itu per harinya Rp 50 ribu, itu meliputi konsentrat, polar (katul gandum) dan katul biasa.
"Naiknya Rp 2-3 juta per ekor. Kalau pakan per harinya Rp 50 ribu. Kebanyakan yang beli kelompok," tuturnya.
Baca Juga: Ini Program Wali Kota Solo untuk Mengentaskan Angka Pengangguran dan Kemiskinan
Sementara itu Sekretaris Lembaga Pembinaan dan Pengamalan Agama Islam (LP2A) Solo, Bambang Harjanto menyatakan dari laporan yang diterima kebanyakan masjid-masjid yang berkurban menurun.
"Rata-rata tiap masjid ada penurunan 1- 2 ekor. Ya ini dampak dari kondisi ekonomi saat ini, sehingga membuat masyarakat merasa kesulitan," terang dia.
Bambang menambahkan di masjid sekitar rumah masih tetap sama 3 sapi dan 3 kambing. Tapi itu sekarang tidak semua dari warga sekitar masjid, ada yang dari luar wilayah.
"Sebenarnya di masjid dekat rumah tidak bisa tiga ekor sapi karena sekarang gabungan. Tahun kemarin masih satu lingkungan sekarang tidak, itu tetap kelompok," pungkas pengurus masjid Muqorrabi RT 3 RW 5 Kelurahan Banjarsari ini.
Kontributor : Ari Welianto
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Warnanya Merah Merona, Ini Penampakan Rumah Masa Kecil Etik Suryani yang Digeledah KPK
-
KPK Geledah Rumah Etik Suryani di Laweyan 1,5 Jam, Angkut 2 Koper
-
15 Teman Kuliah Jokowi di UGM akan Bersaksi saat Sidang Roy Suryo dan dr Tifa
-
PSI Klaim Jokowi Effect Mulai Terasa, 6.000 Warga Lampung Daftar Jadi Anggota
-
Bro Ron Sindir Keras OTT Bupati Sukoharjo: Mungkin Mau Ikuti Sekjennya