- Pedagang di Pasar Gede Solo terpaksa menaikkan harga kebutuhan pokok akibat kenaikan harga plastik dan modal distributor.
- Kenaikan dolar dan biaya operasional berdampak pada penurunan daya beli masyarakat di pasar tradisional hingga Kamis (21/5/2026).
- Para pedagang menyiasati kenaikan biaya dengan menaikkan harga jual secara terbatas guna mempertahankan konsumen di tengah kondisi ekonomi.
SuaraSurakarta.id - Kenaikan dollar terhadap rupiah membuat pedagang pasar tradisional ikut terdampak.
Padahal sebelumnya pedagang belum pulih dari dampak konflik konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Ditambah dengan meroketnya harga plastik hingga 100 persen. Kondisi itu membuat semua kebutuhan pokok merangkak naik termasuk yang berhubungan dengan plastik.
Pedagang pun mau tidak mau menaikan harga jualnya, apalagi harga dari distributor sudah naik. Meski semua kebutuhan pokok harganya naik drastis, namun pedagang menaikan harga tidak terlalu tinggi.
Mereka rata-rata menaikan harga sampai Rp 500, Rp 1000 hingga Rp 2000. Mereka takut jika menaikan harga terlalu tinggi maka konsumen akan lari, apalagi saat ini daya beli masyarakat menurun.
"Pastinya ada pengaruh besar. Harga-harga ikut naik, apalagi harga dari distributor naik," ujar salah satu pedagang Pasar Gede Solo, Maryani (53) saat ditemui, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya meski menaikan harga tidak besar, tapi itu salah satu solusi. Karena kalau mengurangi timbangan pasti tidak bisa dan takut.
"Ya satu-satunya jalan kita ikut menaikan meski tidak besar, naiknya cuma Rp 500 sampai Rp 1000 kalau lebih dari itu berat. Sekarang harga plastik mahal banget. Ya ini mengurangi untung biar bisa bertahan dengan kondisi saat ini," jelasnya.
Maryati mengaku untungnya sedikit dengan menaikan segitu. Kalau tidak naik jelas berat, apalagi harga plastik naik.
Baca Juga: Angka Pengangguran di Kota Solo Lebih Tinggi dari Daerah di Soloraya, Capai 13,5 Ribu Jiwa
"Kadang-kadang pembeli itu minta plastik dobel, sekarang beli telur setengah kilo sudah di plastik satu. Nanti minta kantong buat nyangking, plastiknya itu apa nggak Rp 500 sendiri," ungkap dia.
"Kalau nggak mengikuti harga. Nanti buat kulakannya gimana, itu juga naik meski ada yang turun," ucap warga Karanganyar ini.
Maryani mengatakan daya beli masyarakat saat ini memang turun tidak seperti dulu. Jika dulu bisa beli 5 kilo, karena mahal cuma beli 2-3 kilo.
"Pembeli juga ikut merasakan, tetap beli tapi jumlahnya dikurangi. Misal, biasanya beli beras 5 kilo sekarang cuma 3 kilo saja," kata dia.
Untuk harga sejumlah sembako saat ini ada yang naik, ada juga yang turun. Gula pasir turun, dulu satu sak itu Rp 835 ribu sekarang Rp 810 ribu.
Harga jualnya turun sedikit karena menyesuaikan membungkus plastik. Kalau kemarin pas mahal Rp 18 ribu per kilo, sekarang Rp 17,5 ribu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Konflik Keraton Solo Memanas! Kubu PB XIV Purboyo Layangkan Somasi ke Gusti Moeng
-
Senator Arya Wedakarna Serahkan Tongkat Ganesha, Tegaskan Bali di 2029 Dukung Perintah Jokowi
-
BRI Group Raih Enam Penghargaan Global, Kepemimpinan hingga ESG Mendapat Apresiasi
-
Qlola Catat Pertumbuhan Pengguna 42,6 Persen, BRI Hadirkan New Skin
-
Ribuan Warga Solo Serbu Meet & Greet Harusnya Horror, Reza Arap: Senang Banget!