- Warga Kampung Jatirejo, Solo, telah lama tinggal berdampingan dengan TPA Putri Cempo sejak beroperasi tahun 1986.
- Mayoritas warga bekerja sebagai pemulung dan pengepul sampah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga secara turun-temurun.
- Penduduk terdampak langsung bau menyengat serta kebisingan truk sampah setiap hari akibat lokasi permukiman yang bersebelahan.
SuaraSurakarta.id - Kampung Jatirejo Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo lokasinya berada bersebelahan atau berbatasan langsung dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.
Sebagian besar warga sudah tinggal di Jatirejo sebelum ada TPA Putri Cempo. Mereka pun mayoritas sebagai pemulung atau pengebut dari gunungan sampah Putri Cempo.
Warga harus hidup berdampingan langsung dengan gunung sampah TPA Putri Cempo. Mereka pun harus hidup dengan bau sampah yang kadang baunya sampao menyengat.
Saat buka pintu rumah pun pemandangannya langsung gunung sampah dan bau. Meski demikian banyak warga yang mencari rezeki dari sampah putri cempo ini.
Salah satu warga Jatirejo RT 03 RW 39, Karni (51) yang lahir, masa kecil, besar hingga saat ini tetap tinggal berhadapan langsung gunung sampah.
Karni tinggal di sini sudah turun temurun dari simbah, bapak dan dirinya bersama keluarganya saat ini.
"Saya sejak lahir di sini, turun temurun sampai saat ini. Dari simbah, bapak, sampai saya sampai ke anak. Kebanyakan warga juga sudah lama tinggal di sini dan turun temurun," ujarnya saat ditemui.
Selama ini, Karni dan warga lain terkena dampak langsung dari sampah TPA Putri. Setiap hari selalu merasakan bau menyengat, apalagi saat musim hujan turun.
"Ya berdampingan langsung, kalau dibilang menganggu ya pastinya menganggu. Tapi karena keadaan dan kondisinya saat ini, ya kita terima keadaan. Mengganggunya itu kayak bau, bising karena lalu lalang truk sampah," kata dia.
Baca Juga: Sukses Digelar, POPDA Basket Kota Solo Tingkatkan Kualitas Kompetisi
"Pas parah banget itu pas hujan. Terus sampah habis dinaikan pakai back hoe terus hujan, itu buka pintu pagi langsung terasa menyengat banget," lanjutnya.
Karni menyebut sudah terbiasa dengan hidup seperti ini selalu merasakan bau sampah. Karena mau tidak mau harus diterima, apalagi ini program pemerintah ada pembuangan sampah di sini.
"Enjoy aja karena keadaaan. Kalau bau pasti ya bau. Sudah terbiasa, kan dari lahir di sini. Keinginan pindah dari sini tidak ada, kan sudah turun temurun di sini," kata dia.
Menurutnya banyak warga mencari rezeki dari sampah, baik jadi pemulung atau pengepul. Mereka dari dulu, bahkan ada saudara atau anak yang juga jadi pemulung.
Kalau pemulung sampah yang dicari itu macam-cama, ada plastik, botol, kertas hingga kardus.
Hasil yang diraih pun cukup lumayan, dulu sehari bisa dapat 12-15 karung kalau sekarang cuma 8 karung. Karena sekarang medannya itu cukup berat dan tinggi tidak seperti dulu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Duh! Solo Terancam Krisis Guru Parah: 154 Non-ASN Terancam Diberhentikan, 250 Guru PNS Pensiun
-
Perkuat Wawasan Industri, Sekolah Vokasi UNS Undang Mohammed Aden Suryana Jadi Dosen Tamu
-
Dipimpin AKP Primadhana Bayu Kuncoro, Polres Karanganyar Ungkap Dua Kasus Narkoba
-
Adera Immunity Tour Terus Perkuat Sinergi dengan Pemkot Solo
-
Atap Ruang Kelas di MTs Muhammadiyah Sragen Tiba-tiba Roboh, Guru dan Siswa Jadi Korban