- Warga Kampung Jatirejo, Solo, telah lama tinggal berdampingan dengan TPA Putri Cempo sejak beroperasi tahun 1986.
- Mayoritas warga bekerja sebagai pemulung dan pengepul sampah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga secara turun-temurun.
- Penduduk terdampak langsung bau menyengat serta kebisingan truk sampah setiap hari akibat lokasi permukiman yang bersebelahan.
"Kalau saya pemulung, dulu sehari minimal bisa dapat 12 karung. Kalau sekarang cuma 8 karung, sekarang medannya sulit sudah overload jadi kerjanya tidak maksimal kayak dulu. Tidak bisa cari lebih lama juga," terangnya.
Dari memulung itu hasil yang diraih cukup lumayan, satu karung itu bisa Rp 15.000. Itu belum kalau sampah yang dipilah seperti plastik sendiri, botol dan kardus sendiri, apalagi harga jual plastik sekarang naik Rp 300 sampai Rp 500 perkilonya.
"Itu jualnya yang perhari, ada yang perminggu. Kalau saya tak jual perminggu, itu bisa dapat Rp 1 juta, dulu dapat Rp 25.000 itu sudah banyak. Jadi bagi warga sampah itu sangat berharga meski bau," sambung dia.
Dulu waktu kecil, TPA Putri Cempo itu belum ada, itu baru ada sekitar tahun 1986. Dulu itu lahan pertanian warga yang ditanami padi, jagung hingga lainnya jadi warga itu dulu tani.
Dulu bahkan jadi area bermain anak-anak dan berenang, karena dulu ada sungai yang airnya jernih. Belum ada listrik dulu di kampung sini, masih gelap.
"Dulu waktu saya kecil atau SD, TPA Putri Cempo belum ada. Dulu di sini lahan pertanian, ya ditanami padi kalau sudah panen ganti jagung atau ketela pohon," ungkap dia.
"Dulu ada saluran air bisa buat berenang, airnya bening. Ada juga yang anggon sapi pulang sekolah sambil cari jambu mete lalu bandulan pakai wit (pohon) asem. Banyak kenangan dulu itu," ucap ibu dua anak ini.
Awal-awal dijadikan pembuangan sampah itu lokasinya masih jauh dari pemukiman warga. Karena dulu volume sampah tidak seperti saat ini, apalagi lahannya sangat luas.
"Dulu katanya tidak bilang mau dipakai buat pembuangan sampah, bilangnya mau dibangun jalan dan dipasang listrik. Tahu-tahu tahun 1986 itu baru dibuat buang sampah, awalnya jauh buang sampahnya dan tidak bau tetap kendaraannya tetap lewat sini lama-lama itu makin banyak hingga saat ini sudah parah, belum lagi sebagian lahan dibangun pabrik PLTSa, sehingga yang buat pembuangan jadi sedikit," paparnya.
Baca Juga: Sukses Digelar, POPDA Basket Kota Solo Tingkatkan Kualitas Kompetisi
"Dulu itu buka pintu bisa lihat Gunung Lawu dan matahari terbit. Sekarang malah ganti gunung sampah," tutur dia.
Sementara itu warga lain Saman (55) mengaku awal-awal masuk sini itu tidak betah. Bahkan dikasih makan dan minum tidak dimakan sama sekali.
"Saya masuk sini tahun 1995 karena memang menikah sama orang sini. Dulu kalau ke sini makan tidak doyan, disuguhi minum tidak diminum selanjutnya sudah biasa," ceritanya.
Saman menyatakan memang tidak dipungkiri, orang datang ke sini dan disuguhi makanan pasti tidak mau.
Kalau sekarang tidak masalah lama-lama terbiasa, bangun tidur bau maupun pas makan.
"Maklum lah, kalau orang ke sini disuguhi makanan tidak mau," tandas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Timnas U-17 vs Malaysia di Manahan, Wali Kota Solo: Momentum Emas Perkuat Ekosistem Sepak Bola
-
Ketahanan Ekonomi, 60 Purna PMI di Cirebon Mendapat Pelatihan Kewirausahaan dari BRI Peduli
-
Kerusuhan Pesilat di Boyolali: Warga Jadi Korban, Motor Dibakar dan Empat Orang Terluka
-
Gercep! Tim Sparta Solo Amankan Terduga Maling Motor yang Dikepung Warga di Kadipiro
-
All Stars Solo Terhenti di Perempat Final MLSC All-Stars 2026, Pelatih Bangga dengan Perjuangan Tim