Tasmalinda
Rabu, 20 Mei 2026 | 18:16 WIB
Keraton Kasunanan Surakarta. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • Dua kubu di Keraton Kasunanan Surakarta akan menyelenggarakan tradisi Grebeg Besar secara terpisah pada tanggal 27 dan 28 Mei 2026.
  • Kubu Sinuhun PB XIV Purboyo melaksanakan prosesi pada hari Idul Adha sesuai tradisi dan penanggalan Jawa yang berlaku di keraton.
  • Kubu KGPHPA Tedjowulan menjadwalkan prosesi sehari setelahnya, yang kembali menunjukkan adanya dualisme kepemimpinan di dalam internal Keraton Surakarta tersebut.

SuaraSurakarta.id - Tradisi Grebeg Besar Idul Adha di Keraton Kasunanan Surakarta tahun ini dipastikan berlangsung dua kali. Dua kubu di internal keraton, yakni kubu Sinuhun PB XIV Purboyo dan kubu KGPHPA Tedjowulan, sama-sama berencana menggelar prosesi Grebeg Besar secara terpisah.

Situasi ini kembali memperlihatkan belum meredanya konflik internal di tubuh Keraton Solo yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Kubu PB XIV Purboyo dijadwalkan menggelar Grebeg Besar pada Rabu (27/5/2026), bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Sementara kubu KGPHPA Tedjowulan berencana menggelar tradisi serupa sehari setelahnya atau Kamis (28/5/2026).

Kubu PB XIV Sebut Grebeg Digelar Sesuai Paugeran Keraton

Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta kubu PB XIV Purboyo, GKR Panembahan Timoer Rumbay mengatakan Grebeg Besar merupakan tradisi rutin keraton yang digelar saat Idul Adha.

Prosesi nantinya akan diawali dengan kirab gunungan dari pelataran keraton menuju Masjid Besar Keraton Solo untuk didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

“Kalau di Keraton Grebeg Idul Adha itu seperti biasa gunungan, kemudian dibawa ke Masjid Besar, didoakan baru kemudian dibagikan,” kata Timoer Rumbay saat ditemui di Keraton Solo, Selasa (19/5/2026).

Ia menegaskan pelaksanaan Grebeg Besar pada 27 Mei sudah sesuai penanggalan Jawa dan tradisi keraton.

Rute kirab disebut akan melewati Kamandungan, Sitihinggil hingga Pagelaran sebelum menuju Masjid Besar.

Baca Juga: Keraton Solo Kembali Memanas, Aksi Penggembokan Pintu Masuk Kembali Terjadi

Saat disinggung mengenai rencana Grebeg Besar versi KGPHPA Tedjowulan, Timoer mengaku tidak mempermasalahkannya. Namun ia mempertanyakan dasar pelaksanaan acara tersebut.

Menurut dia, tradisi Grebeg merupakan dhawuh dalem atau perintah raja, sehingga harus dilaksanakan atas titah raja yang sah.

“Kalau Gusti Tejo bikin itu terus rajane sopo? Kan Gusti Tejo bukan Raja,” ujarnya.

Timoer juga mengajak pihak Tedjowulan untuk bergabung bersama kubu PB XIV Purboyo agar tradisi keraton bisa berjalan bersama-sama.

Kubu Tedjowulan Minta Tidak Ada Grebeg Sendiri-sendiri

Di sisi lain, juru bicara KGPHPA Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro mengatakan Tedjowulan justru menginginkan agar keluarga besar Keraton Surakarta bersatu dan tidak lagi menggelar acara secara terpisah.

Load More