Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:49 WIB
Ilustrasi driver ojol yang sepi orderan karena krisis ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Ramadan Bambang, pengemudi ojek online di Kota Solo, kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi karena penurunan pendapatan harian sejak 2016.
  • Bambang terpaksa bekerja tambahan di kedai kopi malam hari untuk menghidupi keluarga akibat pendapatan ojek yang merosot.
  • Mantan karyawan PT Sritex yang terkena PHK massal kini berjuang bertahan hidup dengan beralih profesi menjadi peternak kecil.

Kebetulan diminta teman buat jaga kedai kopi tiap malam, hasilnya lumayan buat tambah-tambah menghidupi keluarga.

"Sejak Desember 2025 kemarin kalau malam di Kedai Kopi. Penghasilannya tidak terlalu banyak tapi bisa menopang kehidupan setiap hari. Hitungannya per bulan, ya masih jauh dari UMR tapi itu tetap disyukuri," sambung dia.

"Di Kedai Kopi sampai jam 1 atau jam 2 malam. Ojolnya masih tetap, bahkan pas di kedai kopi aplikasinya dihidupkan," lanjutnya.

Bambang menyebut penghasilan yang diterima saat ini kalau dibilang tidak cukup memang tidak cukup. Punya anak empat yang masih sekolah dan istri termasuk ibunya. Jadi kalau mau barang yang bisa buat keluarga akan dibeli sebaliknya kalau tidak perlu, tidak beli.

"Yang kerja cuma saya, kebetulan saya disabilitas tuna daksa pakai kaki palsu. Jadi kalau dikatakan kurang memang sangat kurang, karena saya harus menghidupi enam orang termasuk ibu saya. Dari ojol tidak bisa diharapkan lagi, dari kedai kopi tidak cucuk tapi mau tidak menjalani itu, untuk nabung terus terang tidak bisa," jelas dia.

Bambang pun masih punya tanggungan sewa motor yang dipakai buat ojol. Sewanya itu Rp 25.000 per hari, jadi narik ojol itu kalau bisa dapat sekitar Rp 50 ribu per hari.

"Jadi yang Rp25.000 buat beli bensin, yang Rp 25.000 lagi buat bayar sewa motor. Untuk kebutuhan sehari-hari dari penghasilan di kedai kopi," ucapnya.

Hal senada juga disampai Agus Wicaksono, mantan karyawan PT Sritex yang kena PHK. Agus menyebut kalau kondisi saat sulit, apalagi bagi teman-teman pekerja yang kena PHK di Sritex.

"Belum ada kabar yang membahagiakan dan menggembirakan soal pesangon buat teman-teman. Progresnya nggak jelas," kata dia.

Baca Juga: Keraton Solo Kembali Memanas, Aksi Penggembokan Pintu Masuk Kembali Terjadi

Sepeda yang dikendarai buruh perempuan keluar dari pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. [ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww]

Agus mengaku kerja di Sritex sudah 15 tahun yang kemudian ada PHK masal. Padahal kondisi saat ini sangat berat, apalagi banyak eks buruh Sritex yang tidak bisa bekerja lagi mengingat usianya sudah non produktif.

"Ini jelas menambah pengangguran baru. 60 persen dari karyawan yang di PHK itu yang sudah tidak produktif, kasihan mereka padahal itu sebagai mata pencaharian utama. Banyak yang masih menganggur," ucapnya.

Pasca PHK, saat ini sambil menunggu pesangon cair dirinya mencoba beralih profesi sebagai peternak dapat. Meski belum besar dan menghasilkan yang lebih besar

"Saya tetap apa adanya, sekarang dibantu sama anak-anak. Saya sekarang buka usaha kecil-kecilan ternak ayam petelur, ayamnya cuma beberapa ekor saja," tandas dia.

"Yang lain banyak yang kerja kecil-kecilan, seperti jadi jualan kerupuk, ada juga yang jualan cilok," tuturnya.

Agus menambahkan hasil telurnya itu kadang buat sendiri, ada juga yang dijual.

Load More