Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:49 WIB
Ilustrasi driver ojol yang sepi orderan karena krisis ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Ramadan Bambang, pengemudi ojek online di Kota Solo, kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi karena penurunan pendapatan harian sejak 2016.
  • Bambang terpaksa bekerja tambahan di kedai kopi malam hari untuk menghidupi keluarga akibat pendapatan ojek yang merosot.
  • Mantan karyawan PT Sritex yang terkena PHK massal kini berjuang bertahan hidup dengan beralih profesi menjadi peternak kecil.

SuaraSurakarta.id - Kondisi perekonomian di Indonesia saat ini sangat berdampak bagi masyarakat.

Mereka harus bisa memutar otak untuk bisa bertahan hidup di tengan kondisi perekonomian saat ini.

Ini yang dialami oleh seorang driver ojek online (ojol), Ramadan Bambang Wijanarko (52). Bambang, harus membanting tulang untuk menghidupi keluarganya, istri dan tiga anak.

Penghasilan yang diterima tidak seperti dulu lagi. Jika dulu satu hari bisa dapat Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, sekarang dapat Rp50.000 saja sangat sulit.

"Kalau menyikapi sekarang tidak ada perubahan. Untuk bergantung di aplikasi tidak bisa," ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya sejak ojek online masuk di Kota Solo pada 2016 lalu, driver ojol merasakan manisnya itu hanya satu tahun. Setelah itu mengawali kebijakan dari aplikator yang sangat merugikan.

"Saya jadi driver ojol dari awal ada di Solo tahun 2016 sampai sekarang. Sangat sulit sekarang, apalagi apa-apa naik harganya," kata dia.

Bambang mengatakan dulu untuk mendapatkan bonus Rp100 ribu, harus mengumpulkan enam orderan. Sekali orderan untuk Goride itu Rp15.000, Gofood satu orderan Rp20.000.

ilustrasi ojol (Khairul Akbar/Unsplash)

Tapi untuk mencapai enam orderan itu susah mengingat ojol baru di Kota Solo, biasanya para driver mengharapkan di weekend.

Baca Juga: Keraton Solo Kembali Memanas, Aksi Penggembokan Pintu Masuk Kembali Terjadi

"Setalah itu berjalan mulailah bonus itu dikurangi, dari Rp 100 ribu jadi Rp 90 ribu terus Rp 80 ribu dan Rp 60 ribu. Terus lama-lama hilang sama sekali," ungkapnya.

Bambang mengaku kalau dulu bisa dikatakan dalam satu hari dapat Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. Itu mulai berangkat setelah subuh sampai pukul 15.00 WIB atau pukul 16.00 WIB, itu dengan catatan masih ada bonus

"Nah, sekarang untuk mendapatkan Rp50 ribu saja sangat sulit. Itu karena driver bertambah banyak, kompetitor juga banyak sampai kebijakan dari aplikasi yang tidak menjalankan peraturan pemerintah," terang dia.

Dengan kondisi saat ini, Bambang pun harus ekstra bekerja. Jika biasanya keluar pagi sampai sore, tapi sekarang malam juga keluar.

"Sekarang saya keluar jam 7 sampai jam 5 sore, istirahat sebentar dan jam 7.30 malam keluar lagi, itu sampai jam 10 atau jam 11 malam. Sekarang malam dalam satu minggu dapat orderan sehari bisa satu atau dua, hari berikutnya kadang nggak dapat," paparnya.

Ia pun harus berputar otak untuk penghasilan buat keluarga, karena kalau hanya mengandalkan dari ojol tidak bisa.

Kebetulan diminta teman buat jaga kedai kopi tiap malam, hasilnya lumayan buat tambah-tambah menghidupi keluarga.

"Sejak Desember 2025 kemarin kalau malam di Kedai Kopi. Penghasilannya tidak terlalu banyak tapi bisa menopang kehidupan setiap hari. Hitungannya per bulan, ya masih jauh dari UMR tapi itu tetap disyukuri," sambung dia.

"Di Kedai Kopi sampai jam 1 atau jam 2 malam. Ojolnya masih tetap, bahkan pas di kedai kopi aplikasinya dihidupkan," lanjutnya.

Bambang menyebut penghasilan yang diterima saat ini kalau dibilang tidak cukup memang tidak cukup. Punya anak empat yang masih sekolah dan istri termasuk ibunya. Jadi kalau mau barang yang bisa buat keluarga akan dibeli sebaliknya kalau tidak perlu, tidak beli.

"Yang kerja cuma saya, kebetulan saya disabilitas tuna daksa pakai kaki palsu. Jadi kalau dikatakan kurang memang sangat kurang, karena saya harus menghidupi enam orang termasuk ibu saya. Dari ojol tidak bisa diharapkan lagi, dari kedai kopi tidak cucuk tapi mau tidak menjalani itu, untuk nabung terus terang tidak bisa," jelas dia.

Bambang pun masih punya tanggungan sewa motor yang dipakai buat ojol. Sewanya itu Rp 25.000 per hari, jadi narik ojol itu kalau bisa dapat sekitar Rp 50 ribu per hari.

"Jadi yang Rp25.000 buat beli bensin, yang Rp 25.000 lagi buat bayar sewa motor. Untuk kebutuhan sehari-hari dari penghasilan di kedai kopi," ucapnya.

Hal senada juga disampai Agus Wicaksono, mantan karyawan PT Sritex yang kena PHK. Agus menyebut kalau kondisi saat sulit, apalagi bagi teman-teman pekerja yang kena PHK di Sritex.

"Belum ada kabar yang membahagiakan dan menggembirakan soal pesangon buat teman-teman. Progresnya nggak jelas," kata dia.

Sepeda yang dikendarai buruh perempuan keluar dari pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. [ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww]

Agus mengaku kerja di Sritex sudah 15 tahun yang kemudian ada PHK masal. Padahal kondisi saat ini sangat berat, apalagi banyak eks buruh Sritex yang tidak bisa bekerja lagi mengingat usianya sudah non produktif.

"Ini jelas menambah pengangguran baru. 60 persen dari karyawan yang di PHK itu yang sudah tidak produktif, kasihan mereka padahal itu sebagai mata pencaharian utama. Banyak yang masih menganggur," ucapnya.

Pasca PHK, saat ini sambil menunggu pesangon cair dirinya mencoba beralih profesi sebagai peternak dapat. Meski belum besar dan menghasilkan yang lebih besar

"Saya tetap apa adanya, sekarang dibantu sama anak-anak. Saya sekarang buka usaha kecil-kecilan ternak ayam petelur, ayamnya cuma beberapa ekor saja," tandas dia.

"Yang lain banyak yang kerja kecil-kecilan, seperti jadi jualan kerupuk, ada juga yang jualan cilok," tuturnya.

Agus menambahkan hasil telurnya itu kadang buat sendiri, ada juga yang dijual.

"Kalau ada yang mau dijual, yang beli itu tetangga atau teman. Harganya dibawah pasar pastinya, jumlahnya memang tidak banyak," tandas dia.

"Perjuangan teman-teman terus dilakukan. Ini agar hak-haknya bisa terpenuhi," pungkasnya.

Kontributor : Ari Welianto

Load More