Budi Arista Romadhoni
Selasa, 10 Maret 2026 | 08:36 WIB
Kirab malam selikuran yang diadakan oleh dua kubu di Keraton Kasunanan Surakarta. (Suara.com/Ari Welianto)
Baca 10 detik
  • Dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta, LDA dan PB XIV Purboyo, menggelar kirab malam selikuran pada Senin, 9 Maret 2026.
  • Masing-masing kubu melaksanakan kirab dengan rute berbeda; LDA menuju Masjid Agung dan PB XIV menuju Taman Sriwedari.
  • Kirab melibatkan ratusan abdi dalem membawa lampion dan tumpeng sewu untuk dibagikan sebagai bagian syiar Islam.

"Ya utamanya tumpeng sewu. Tumpeng sewu kalau nggak salah dibawa di dalam delapan apa namanya ancak. Delapan itu kan bagi budaya Jawa juga mempunyai nilai falsafah tersendiri ya semua diketahui," ungkapnya.

Sementara itu dari kubu PB XIV Purboyo, KGPH Dipokusumo mengatakan makna malam selikuran itu adalah bagaimana tata cara upacara keraton dalam rangka syiar agama Islam. Khususnya dalam hal ini kaitannya dengan turunan lailatul qadar.

"Tata cara upacara ini awalnya dari keraton menuju Masjid Agung dengan diiringi beberapa thing atau lampu-lampu gantung tradisional. Namun kemudian acara ini dialihkan atau dipindah oleh PB X ke Taman Sriwedari sampai sekarang ini," ungkap dia.

Dipokusumo menjelaskan maknanya karena waktu itu, pertama di alun-alun keraton sudah ada semacam sekaten. Nah, untuk menghidupkan Bon Rojo Sriwedari maka setiap tanggal 21-30 bulan ramadhan diadakan malam selikuran dengan dimeriahkan pasar malam.

"Disamping itu untuk menarik para pengunjung hadir di sana diadakan semacam lampu. Itu di menara ada lampu yang memutar," jelasnya

Kontributor : Ari Welianto

Load More