Budi Arista Romadhoni
Rabu, 21 Januari 2026 | 08:00 WIB
Aksi mandi lumpur Kades Ngepringan, Narso di jalan yang rusak dan berlubang. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Kepala Desa Ngepringan, Narso, mandi lumpur pada Selasa (20/1/2026) sebagai bentuk protes jalan kabupaten rusak.
  • Aksi tersebut dipicu kerusakan jalan Mlale–Ngepringan yang terakhir diaspal sekitar 24 tahun lalu.
  • Jalan rusak sangat parah, menyebabkan kesulitan akses warga, kerusakan kendaraan, dan isolasi wilayah.

SuaraSurakarta.id - Beredar video Kepala Desa (Kades) Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Narso mandi lumpur" di tengah kubangan jalan kabupaten yang rusak parah.

Dalam video yang beredar tersebut, Kades Ngepringan, Narso sedang mandi lumpur dengan mengenakan seragam dinas, Selasa (20/1/2026). Narso tampak duduk sambil tangannya mencipratkan air ke tubuhnya.

Bahkan banyak warga yang melintas di jalan rusak yang dijadikan mandi lumpur oleh kades.

Aksi tersebut merupakan protes karena jalan utama Mlale–Ngepringan di wilayahnya, rusak sudah sangat lama dan tidak diperbaiki.

"Sebenarnya tidak sengaja protes, tadi mau berangkat kerja malah kepleset. Ya sudah, sekalian adus, gebyur sisan (mandi sekalian). Tidak ada rencana, ini spontanitas," ujarnya, Selasa (20/1/2026). 

Narso mengatakan jalan sepanjang 6 kilometer tersebut sudah rusak cukup lama. Bahkan pengaspalan terakhir oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) itu sekitar 24 tahun lalu.

"Terakhir kali pengaspalan itu sekitar 24 tahun lalu. Bahkan sejak tahun 2019, kondisi jalan kian memburuk sampai sekarang," ungkap dia.

Menurutnya sempat ada papan informasi kalau jalan tersebut ada proses lelang dan akan dibangun tahun 2025. Tapi sampai ini belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.

"Katanya siap dibangun 2025, tapi sampai 2026 mboten enten (tidak ada). 2024-2025 tidak dibangun," katanya.

Baca Juga: Ratusan Siswa dan Guru di Sragen Diduga Keracunan Usai Santap Menu Program MBG

Narso menjelaskan kubangan di jalan rusak sedalam lutut orang dewasa itu merupakan akses warga maupun anak-anak sekolah. 

Bahkan anak-anak sekolah yang akan melintas harus sampai melepas sepatu dan seragam agar tidak kotor sebelum sampai sekolah.

"Pernah juga truk logistik tersangkut pas lewat, kendaraan kecil sering mengalami kerusakan mesin atau pecah bak oli akibat benturan lubang. Bagi warga itu merasa terisolasi," jelas dia.

Narso menambahkan warga tidak menuntut kemewahan, hanya menuntut akses jalan yang layak dan aman. 

"Mudah-mudahan segera diperhatikan. Tidak perlu bagus banget, yang penting rata, bisa dilewati, dan tidak becek. Mau aspal atau cor silakan, karena ini sudah parah banget," tandasnya.

Kontributor : Ari Welianto

Load More