- PN Jakarta Selatan memvonis Laras Faizati percobaan enam bulan, memicu kritik sebagai ancaman serius bagi kebebasan berekspresi.
- Laras, mantan Communication Officer AIPA, didakwa UU ITE dan KUHP karena unggahan Instagram yang mengkritik kepolisian.
- Kasus ini menyoroti pola kriminalisasi suara kritis perempuan di media sosial yang kini menghadapi represi negara.
SuaraSurakarta.id - Kasus Laras Faizati, seorang perempuan muda yang divonis hukuman masa percobaan enam bulan karena unggahan di media sosialnya, telah menjadi sorotan tajam di Indonesia.
Putusan ini, meskipun tidak mengharuskan Laras menjalani hukuman penjara, dinilai para aktivis sebagai ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi, terutama bagi perempuan.
Berikut adalah fakta-fakta kunci dari kasus Laras Faizati yang menyoroti bagaimana suara perempuan kini berada di ujung tanduk:
1. Vonis Bersalah yang Mengkhawatirkan Kebebasan Berekspresi
Majelis hakim PN Jakarta Selatan menjatuhkan vonis hukuman masa percobaan enam bulan kepada Laras Faizati, dengan syarat tidak melakukan tindak pidana selama satu tahun.
Meskipun Laras dibebaskan, "walaupun divonis bersalah dan seharusnya opini, kritik, dan ungkapan kemarahan suatu situasi politik yang sangat memilukan itu tidak dipidana," kata Laras usai putusan.
Vonis ini dianggap sebagai preseden buruk yang dapat membungkam suara-suara kritis, khususnya dari perempuan dan pemuda.
2. Laras Faizati: Dari Pegawai Internasional Menjadi Terdakwa
Sebelum kasus ini mencuat, Laras Faizati adalah seorang Communication Officer di ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) dan aktif magang di berbagai lembaga internasional.
Baca Juga: Penuhi Syarat Jadi Raja, PB XIV Hangabehi Genap Salat Jumat 7 Kali di Masjid Agung
Ia adalah tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal. Unggahan story di Instagramnya yang mengkritik kepolisian dan menyerukan pembakaran Mabes Polri, meskipun hanya dilihat puluhan orang, membuatnya ditangkap dan didakwa dengan Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) UU ITE, Pasal 48 ayat (1) jo Pasal 32 ayat (2) UU ITE, Pasal 160 KUHP, dan Pasal 161 ayat (1) KUHPidana.
3. Kriminalisasi Unggahan Media Sosial dan Pola Baru Penangkapan Perempuan
Kasus Laras menunjukkan pola baru dalam penangkapan tahanan politik, di mana perempuan yang menyuarakan keresahan melalui media sosial dianggap berbahaya.
Aktivis perempuan, Kalis Mardiasih, menjelaskan bahwa sebagian besar tahanan politik perempuan, termasuk Laras, tidak berada di lokasi demo melainkan hanya mengunggah di media sosial.
"Perempuan saat menulis bisa punya unsur emosi yang kuat sehingga lebih bisa membuat orang terharu, lebih bisa membuat orang bersolidaritas," kata Kalis, menunjukkan ketakutan terhadap kekuatan suara perempuan di ranah digital.
4. Tuntutan yang Lebih Berat dari Pelaku Kekerasan Polisi
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Ika Wonda Hattrick, MilkLife Strikers Buka Singa Cup 2026 dengan Kemenangan Telak
-
Latihan Jadi Pengusaha Digital, Santri di Solo Mimpi Buka Warung Pecel Lele
-
Persis Solo Tunggak Sewa Stadion Manahan Rp 3,21 Miliar, BRM Kusumo Putro: Ini Memalukan!
-
Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum
-
Wali Kota Solo Minta Persis Segera Lunasi Tunggakan Sebesar Rp3,21 Miliar