SuaraSurakarta.id - Tahun Baru Imlek 2024 dirayakan oleh masyarakat etnis tionghoa dan beragam konghucu. Salah satunya masyarakat di Kampung Balong yang merupakan kawasan pecinan terbesar di Solo.
Imlek 2024 merupakan Tahun Naga Kayu, dan etnis keturunan tionghoa dan konghucu di seluruh dunia termasuk di Kampung Balong Solo merayakannya. Adapun Kampung Balong sendiri merupakan salah satu kampung yang ada di Solo.
Namun, berbeda dengan kampung lainnya menurut sejarah Kampung Balong merupakan kawasan pecinan pertama yang ada di Solo. Berikut ini sejarah singkat mengenai Kampung Balong yang menjadi kawasan pecinan pertama di Solo.
Sejarah Kampung Balong
Kampung Balong, sebuah nama yang tak asing bagi masyarakat Solo. Terletak di Kelurahan Sudiroprajan, Jebres, Surakarta. Terdapat beberapa versi mengenai asal usul nama Kampung Balong.
Versi pertama menyebutkan bahwa nama "Balong" berasal dari kata "balongan" yang berarti tengkorak. Konon, dahulu kala di tempat tersebut terdapat banyak tengkorak manusia yang dibuang setelah pertempuran.
Versi kedua mengatakan bahwa "Balong" berasal dari kata "balong" dalam bahasa Jawa yang berarti kolam. Dahulu, di tengah kampung terdapat sebuah kolam besar yang menjadi sumber air bagi penduduk.
Versi ketiga mengemukakan bahwa "Balong" merupakan pengucapan dari "Babah Long", nama seorang saudagar Tionghoa yang diyakini sebagai pendiri Kampung Balong.
Kampung Balong telah menjadi permukiman etnis Tionghoa sejak abad ke-18. Pada masa itu, banyak pedagang Tionghoa yang datang ke Solo dan menetap di kampung ini. Mereka membangun rumah-rumah dengan arsitektur khas Tionghoa dan membuka berbagai usaha perdagangan.
Baca Juga: Sungai Bengawan Solo Kembali Tercemar, Diduga dari Industri Alkohol di Sukoharjo
Seiring waktu, Kampung Balong berkembang pesat menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di Solo. Berbagai macam barang dagangan dapat ditemukan di sini, mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga barang elektronik.
Kampung Balong juga menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah penting di Solo, termasuk Perang Diponegoro dan era kolonial Belanda.
Saat ini, Kampung Balong masih menjadi salah satu pusat komunitas Tionghoa di Solo. Meskipun banyak keturunan Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya Jawa, tradisi dan budaya Tionghoa masih dilestarikan di kampung ini.
Setiap tahun, Kampung Balong menyelenggarakan berbagai acara perayaan, seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Acara-acara ini menarik banyak wisatawan dan menjadi daya tarik utama Kampung Balong.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Mantan PMI Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon hingga Jantung Kota Taipei
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Dukung Diaspora dan PMI, BRImo Taiwan Raih Penghargaan Inovasi Indonesia 2026
-
Masa Demo di Depan Rumah Jokowi, Serahkan Surat Peringatan dan Plakat Bertuliskan Filosofi Jawa
-
Investasi Berkelanjutan Makin Kokoh, DPLK BRI Kantongi Kehati ESG Award 2026