- Pemerintah Kota Solo merehabilitasi rumah bersejarah berusia 178 tahun milik pahlawan nasional Brigjen Slamet Riyadi sejak Mei 2026.
- Perbaikan difokuskan pada bagian atap bangunan utama karena mengalami kerusakan parah dan sering mengalami kebocoran saat hujan turun.
- Rehabilitasi rumah di Kelurahan Danukusuman tersebut berawal dari rangkaian kunjungan pihak Unisri, DPRD Solo, dan Pemkot Solo.
Gunawan menjelaskan rumah ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, karena sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Rumah ini dibangun sekitar tahun 1848, ini terlihat angka yang ada di atas pintu masuk.
Orang tua Slamet Riyadi bernama Prawiropralebdo dan Soetati. Ayahnya merupakan prajurit Keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan ibunya pedagang buah.
"Pak Slamet itu masa kecilnya di sini sampai dewasa. Sekolahnya juga di sekitar sini," ucap dia.
Gunawan bercerita beliau itu sejak kecil memang sudah tidak suka sama Belanda. Waktu sekolah itu sering berantem sama anak-anak Belanda.
Baca Juga:Ancam Buka Paksa Keraton Solo, Kubu PB XIV Purboyo Meradang: Kenapa Harus Pakai Kekerasan?
"Pak Slamet itu memang dari tidak suka sama Belanda. Itu kalau anak-anak atau orang-orang Indonesia dihina, itu Pak Slamet tidak terima lalu berantem jadi tidak takut sama sekali, pemberani. Jadi nasionalismenya itu sudah tertatap sejak kecil," jelasnya.
Ibu dan simbah sering cerita kalau beliau itu dikenal sebagai pemberani dan tidak takut sama Belanda. Mulai ikut berjuang itu setelah lulus sekolah pelayaran, bahkan sempat menghimpun kekuatan dengan mengajak teman-temannya bergabung untuk melawan Belanda dan Jepang.
"Prestasi membanggakan itu Pak Slamet berani membobol gudang senjata Jepang di Solo. Setelah itu terus berjuang ke berbagai daerah," imbuh dia.
Setelah terjun dan ikut berjuang itu beliau jarang pulang ke rumah. Kalau pun pulang hanya sebentar dan cuma menanyakan kabar lalu berangkat lagi.
Karena beliau itu sebagai pimpinan di Solo menjadi target dan sering dicari Jepang dan Belanda.
Baca Juga:LDA Keraton Solo Ancam Buka Paksa Akses yang Dikunci, Penghalang Revitalisasi Bakal Dipidanakan
"Pak Slamet itu jarang pulang, jadi target Belanda yang mencari pimpinannya lalu ditangkap dan dibuang. Makanya jarang pulang, kalau pulang sembunyi-sembunyi karenakan mata-mata Belanda itu banyak," papar dia.
Saat Slamet Riyadi pergi ke Ambon untuk berjuang, keluarga itu tidak tahu dan tidak pamit. Tahu-tahu dapat kabar kalau Slamet Riyadi gugur di usia 23 tahun tahun 1950.
"Pak Slamet berangkat ke Ambon itu sembunyi-sembunyi. Keluarga tidak tahu sama sekali," imbuhnya.
Keluarga tahu kalau Slamet Riyadi gugur di Ambon dari siaran radio. Waktu itu komandannya Pak Gatot Subroto juga memberitahu kalau Slamet Riyadi gugur di Ambon.
"Simbah terkejut saat ada berita dari RRI jika Slamet Riyadi gugur di Ambon. Simbah langsung kaget, kok ora pamit sama saya, masak bapake ora dipamiti ngerti-ngerti gugur. Simbah nangis-nangis saat tahu anak laki-lakinya gugur," tandas dia.
Ada pesan dari Slamet Riyadi, nanti kalau gugur disitu dimakamkan tidak usah dipindah-pindah. Karena itu masih bagian dari Indonesia.