- Kementerian Kebudayaan merencanakan revitalisasi Keraton Kasunanan Surakarta pada Juli 2026 yang saat ini terancam mengalami hambatan teknis.
- Kubu PB XIV Purboyo mengunci akses menuju Keputren dan Ndalem Ageng sehingga menghambat aktivitas adat serta revitalisasi.
- Lembaga Dewan Adat telah tiga kali meminta pembukaan akses, namun pihak PB XIV Purboyo tetap membatasi pintu tersebut.
SuaraSurakarta.id - Rencana revitalisasi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) terancam terhambat.
Keputren Ndalem Ageng atau ruang pusaka merupakan area yang rencana akan direvitalisasi. Namun akses ke area tersebut dikunci oleh kubu Paku Buwono (PB) XIV Purboyo.
Bahkan dari pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang sempat minta ke kubu PB XIV Purboyo agar akses di area tersebut bisa dibuka.
Namun tidak diperbolehkan, adu mulut bahkan sempat terjadi antara GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng) dengan Bupati Estri PB XIV Purbaya, KMT Ana Muji Rahayuning Tyas dan GRAy Devi Lelyana Dewi saat persiapan prosesi Labuhan Parangkusumo kubu Paku Buwono (PB) XIV Purboyo, Minggu (5/7/2026) kemarin.
Baca Juga:Kritik Pedas Program MBG hingga Koperasi Desa, Mahasiswa Beri Ultimatum 7x24 Jam ke Pemerintah
Ketua Eksekutif LDA Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi mengatakan salah satu area yang berkaitan langsung dengan revitalisasi adalah Keputren.
Gusti Moeng sudah tiga kali meminta agar akses menuju Keputren dan Ndalem Ageng (kamar pusaka) dibuka.
"Bahwa salah satu area yang berkaitan langsung dengan proses revitalisasi adalah Keputren. Gusti Moeng telah tiga kali meminta agar akses menuju Keputren dan Ndalem Ageng (kamar pusaka) dibuka," terangnya, Rabu (8/7/2026).
Eddy menjelaskan pembukaan akses tersebut bukan untuk penguasaan sepihak, melainkan agar pembukaan akses dapat dilakukan secara bersama-sama.
"Ini bukan untuk penguasaan sepihak. Dua kali permintaan itu disampaikan kepada Ana Muji Rahayuning Tyas, sedangkan permintaan ketiga disampaikan kepada Mbak Asih seusai acara Bedhaya Ketawang pada Juni 2026," ungkap dia.
Baca Juga:Malam Satu Suro di Keraton Solo Memanas: Dua Kubu Keluarga Keraton Terlibat Adu Mulut!
Eddy menyebut permintaan tersebut tidak mendapatkan respons dari pihak sebelah. Bahkan setelah permintaan itu tidak memperoleh jawaban, akses menuju Keputren dalam praktiknya tidak dapat digunakan, termasuk melalui Pintu Gajah dan Pintu Wiworo Kenyo.
"Tidak ada respon dari permintaan kami. Bahkan dalam praktiknya pintu itu tidak dapat digunakan," katanya.
Eddy menegaskan kondisi tersebut berdampak langsung pada terganggunya aktivitas adat dan budaya di lingkungan keraton. Ini juga menghambat pelaksanaan revitalisasi yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan.
"Bahkan pada 18 Juni 2026 lalu, tim revitalisasi dari Kementerian Kebudayaan sempat masuk ke area Keputren. Namun saat itu muncul keberatan dari pihak lain yang menyebut kalau akses ke area tersebut harus terlebih dahulu mendapat izin dari pihak Purboyo," papar dia.
Sementara itu Juru Bicara PB XIV Purbaya, KPA Singonagoro mengatakan kalau area tersebut bersifat privat.
"Kalau Kamandungan kita menyayangkan lah ketika adanya sikap yang seperti itu. Harusnya kan ya kemarin kan juga sudah disebutkan, diminta komunikasi dengan Gusti Panembahan atau Gusti Timoer," jelasnya.