- Ratusan peternak ayam Soloraya menggelar aksi protes di Kota Solo pada Selasa (7/6/2026) akibat anjloknya harga komoditas.
- Peternak menuntut Menteri Pertanian menstabilkan harga ayam dan telur di atas Harga Pokok Penjualan yang telah ditetapkan pemerintah.
- Aksi tersebut dilakukan sebagai respons atas kerugian besar akibat kelebihan pasokan serta kenaikan biaya produksi pakan yang ekstrem.
Parjuni menyebut harga pakan dan bahan baku yang naik juga ikut menjadi dampak. Sehingga ke depan itu harus disesuaikan.
"Harus diingat paka juga naik, bahan baku naik juga. Maka ini harus disesuaikan dalam periodik yang ke depannya," jelasnya.
Kenaikan harga pakan itu 5-7 persen, itu untuk jenis pakan konsentrat maupun pakan jadi untuk ayam petelur dan ayam broiler. Naiknya harga pakan ini berpengaruh pada feed conversion ratio (FCR).
"Misalnya kita naik Rp 600 per kilo, itu kalau dikalikan 1,5 saja sudah Rp 900 sampai Rp 1.000. Artinya apa? HPP kita ini sudah naik kurang lebih Rp 1.000. Petelur juga sama, kita tinggal mengalikan harga pakan misalnya naik Rp 500, kita kalikan 3 berarti harus HPP-nya naik Rp 1.500," papar dia.
Baca Juga:Peringatan Malam 1 Suro, Kubu PB XIV Purboyo Tak Lakukan Kirab Pusaka, Ini Alasannya
Parjuni mengaku ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan harga telur dan ayam. Adanya over supply hingga menurunnya daya konsumsi masyarakat karena kondisi ekonomi saat ini.
"Selama masyarakat itu ada uang, berapapun harga itu enggak masalah. Cuma kalau ini sudah murah enggak terbeli, artinya kan masyarakat juga ekonominya kurang," ujarnya.
Anjloknya harga telur dan ayam saat ini, lanjut dia, lebih ekstrem jika dibandingkan kenaikan sebelumnya. Dulu turun harga harga disebabkan karena naiknya harga jagung, kalau saat ini buka karena jagung yang naik tapi juga naiknya dolar.
"Harganya jatuh dari tahun lalu, waktu itu sudah diangka Rp 18.000, Rp 17.000. Kalau yang waktu kita tahun lalu minimal diangka Rp 20.000, Rp 21.000. Untuk ayam potongnya, waktu itu masih di harga Rp 17.000, Rp 18.000, sekarang ekstrem ke Rp 13.000, Rp 14.000," ungkap dia.
Soal aksi mandi telur ini sebagai bentuk protes dari para peternak karena rendahnya daya jual di pasaran yang membuat stok menumpuk.
Baca Juga:2 Kubu di Keraton Solo Tetap Gelar Kirab Malam 1 Suro, Duduk Saling Membelakangi
"Ini kebetulan telur nggak laku ya, ini yang kita pakai telur yang sudah lama. Ya daripada dibuang sama saja, terus kita pakai mandi saja. Memang kita agak kesal ya, karena sudah numpuk di tempat, teman-teman ini juga ada, kita pakai untuk, sama-sama dibuang, ya dipakai mandi aja," pungkasnya.
Kontributor : Ari Welianto