- BPS Jawa Tengah mencatat Kota Solo memiliki 412 kasus baru HIV/AIDS pada awal Maret 2026.
- Sebanyak 80 persen dari total temuan kasus HIV/AIDS di Solo berasal dari warga luar kota.
- Pemkot Solo mengoptimalkan layanan kesehatan serta edukasi formal dan nonformal guna menekan angka penularan penyakit.
SuaraSurakarta.id - Kota Solo berada di urutan kedua daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS baru terbanyak di Jawa Tengah.
Berdasarkan data terakhir yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah pada awal Maret 2026, Kota Bengawan tercatat memiliki 412 kasus HIV/AIDS baru.
Tingginya angka tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Surakarta. Wali Kota Solo, Respati Ardi, memastikan bahwa pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS menjadi salah satu komitmen Pemkot Solo.
"Ini menjadi keseriusan bagi kami, komitmen terhadap pemberantasan AIDS. Akan kita selesaikan, kita sosialisasikan ke masyarakat dan lebih kita perhatikan terkait pekat atau penyakit masyarakat," kata Respati, Minggu (31/5/2026).
Baca Juga:Patroli Gabungan Malam Takbiran, 27 Motor Berknalpot Brong Diamankan di Joglo Solo
Respati menegaskan, Pemkot Solo akan memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS. Edukasi tersebut akan dilakukan melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.

“Kita akan edukasi secara terus-menerus di pendidikan formal maupun nonformal. Nanti untuk Komisi Penanggulangan AIDS akan kita turunkan ke masyarakat supaya masyarakat mengetahui bahayanya,” terangnya.
Menurut Respati, pergaulan bebas menjadi salah satu faktor risiko dalam penularan HIV/AIDS. Karena itu, langkah preventif menjadi kunci penting dalam menekan kasus HIV/AIDS di Kota Solo.
“Kami akan lebih sering untuk mencegah perkembangan penyakit AIDS. Kelurahan Peduli AIDS saya rasa akan lebih kita optimalkan lagi. Dan yang akan kita buat terobosan adalah penekanan edukasi di sekolah-sekolah. Jadi anak-anak usia praremaja dan remaja ini menjadi prioritas khusus,” imbuhnya.
Dinkes: 80 Persen Pasien Warga Luar Kota
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, dr. Retno Erawati Wulandari, menjelaskan bahwa tingginya temuan kasus HIV/AIDS di Solo tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai tingginya penularan di dalam kota. Menurutnya, salah satu faktor utama tingginya temuan kasus adalah aktifnya skrining yang dilakukan Dinas Kesehatan.
Baca Juga:Pengembangan Kasus Gatsu: Pelaku RAT Ternyata Juga Beraksi di Pasar Kliwon hingga Solo Baru
Retno menjelaskan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di Solo, sekitar 80 persen kasus yang ditemukan merupakan warga luar Kota Solo. Sementara itu, warga Kota Solo hanya sekitar 20 persen.
“Dari kasus yang ditemukan di Solo, hanya 20 persen yang warga Solo, sisanya warga luar Solo,” kata dr. Retno.
Ia mengakui, sejak dulu Kota Solo kerap masuk dalam tiga besar daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Tengah. Namun, kondisi tersebut tidak lepas dari masifnya upaya skrining dan penemuan kasus yang dilakukan secara aktif oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta.
Menurutnya, semakin banyak kasus HIV/AIDS ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan penanganan medis. Dengan begitu, risiko penularan dan kasus baru dapat ditekan.
“Semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin cepat pasien bisa mendapatkan pengobatan sehingga tidak menularkan kepada orang lain. Dulu, saat skrining belum digencarkan, angka HIV di Solo juga terlihat rendah karena banyak kasus yang belum terdeteksi. Karena itu, tingginya angka temuan tidak selalu berarti penularan lebih tinggi, tetapi juga menunjukkan upaya deteksi yang lebih optimal,” jelasnya.
Retno menambahkan, fasilitas kesehatan yang memadai juga menjadi salah satu alasan banyak warga luar daerah memilih melakukan pemeriksaan di Solo.