- LDA Surakarta menanggapi laporan polisi mengenai dugaan penganiayaan cucu PB XIII terhadap anggota keamanan keraton pada Minggu (18/1/2026).
- Ketua Eksekutif LDA mengklaim BRM Suryo Mulyo justru berupaya menyelamatkan korban dari aksi pengeroyokan agresif saat keributan.
- LDA belum mengetahui proses laporan polisi dan menegaskan mereka sedang menjalankan tugas pembukaan keraton sesuai arahan kementerian.
SuaraSurakarta.id - Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta angka bicara mengenai laporan ke polisi soal dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang dilakukan oleh cucu PB XIII, BRM Suryo Mulyo kepada anggota tim keamanan PB XIV Purboyo berinisial RP (23) saat terjadi keributan di keraton, Minggu (18/1/2026).
Ketua Eksekutif LDA KPH Eddy Wirabhumi mengatakan kalau yang bersangkutan (Kanjeng Suryo) malah ingin menyelamatkan korban dari aksi pengeroyokan saat terjadi keributan kemarin.
"Yang saya lihat kan gini, kan dia disamping saya, dia membawakan tas gusti. Dia sudah lihat, saya juga lihat anak ini sangat agresif yang rambut putih itu," terangnya saat ditemui, Selasa (20/1/2026).
"Terus kan suasana begitu, pas Mas Suryo melihat itu malah narik dia dibawa minggir supaya tidak terjadi sesuatu kepada dia," lanjut dia.
Baca Juga:5 Fakta Terbaru Drama Gembok Keraton Solo, Konflik Dua Raja Berlanjut Meski Sudah Bertemu Wapres
Eddy menjelaskan kalau kemudian disitu dirinya juga menyampaikan sudah cukup jangan diapa-apain. Terus dilepas sama Suryo Mulyo dan terjadi apa-apa itu tidak tahu.
"Tapi yang pasti Mas Suryo Mulyo menyelamatkan anak itu. (Waktu memiting itu) Iya, kan ditarik supaya terjadi apa-apa. Karena terjadi benturan sama yang lain, dia itu selalu overaktif, nek kayak ngono pasti terjadi. Makanya ditarik dan dipinggirkan," ungkapnya.
Eddy sempat melakukan konfirmasi sama beliau (Suryo Mulyo) soal kejadian kemarin itu. Beliau membantah kalau telah melakukan pemukulan.
"Iya seperti itu (saat dikonfirmasi). Nggak, dia nggak melakukan itu (pemukulan," kata dia.
Eddy mengaku belum mengetahui soal adanya laporan ke polisi mengetahui kejadian tersebut. Pihaknya pun belum melakukan langkah apa-apa terkait masalah ini.
Baca Juga:Dualisme Raja Jadi Biang Kerok, Pemkot Masih Tahan Dana Hibah 2026 untuk Keraton Solo
"(Proses di kepolisian sudah ada pemberitahuan) Belum, belum. (Ada upaya media) Belum ada apa-apa. Karena ini kita baru tahu dari media seperti itu, bajunya robek-robek, nah itu dirobek dimana kita nggak tahu," jelasnya.
Soal pengeroyokan, lanjut dia, itu yang mengeroyok siapa juga tidak tahu kalau itu memang itu terjadi betul.
"Karena yang saya tahu, Mas Suryo itu malah menyelamatkan," sambung dia.
Menurutnya kalau dirinya bersama beliau dan gusti-gusti yang lain itu dalam rangka menjalankan tugas. Karena waktu rapat koordinasi di pemkot hari sabtu yang dihadiri juga sama forkompinda, bahkan dihadiri sama pihak mereka.
"Dalam rapat disampaikan supaya hari minggu semua kunci sudah dibuka. Makanya waktu membuka itu kan bersama TNI/Polri juga penjaga, jadi kita itu sedang menjalankan tugas kementerian kebudayaan. Kan SK itu sudah diberikan ke Panembahan Agung Tedjowulan hari selasa malam, jadi bukan tanggal 18," jelasnya.
Eddy menambahkan saat akan membuka itu malah dihalangi. Karena pembukaan pintu itu, Menteri Kebudayaan Fadlin Zon mau meninjau keraton sebagai upaya untuk merevitalisasi.