- Konflik kepemimpinan antara Pakubuwono XIV Purbaya dan Hangabehi tetap memanas, ditandai aksi saling mengganti gembok akses Keraton Surakarta.
- Lembaga Dewan Adat (LDA) mengonfirmasi penggantian gembok sebagai respons pengamanan kawasan keraton oleh kelompok mereka.
- Penggantian gembok ini berdampak langsung pada penutupan Museum Keraton, merugikan masyarakat dan program konservasi budaya.
4. Sudah Bertemu Wapres, Tapi Konflik Tak Mereda
Pada hari yang sama, kedua raja Keraton Surakarta sempat bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka usai menunaikan Salat Jumat di Masjid Agung Keraton Solo. Pertemuan ini sempat memunculkan harapan bahwa konflik internal akan mereda.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran menyampaikan pesan agar seluruh pihak menjaga kondusivitas dan memperhatikan kelestarian aset budaya.
“Kami titip ke Pak Wali, mohon selalu dijaga kondusivitasnya. Aset-aset yang sudah terbangun mohon bisa dirawat dengan baik. Kota Solo yang penuh kebudayaan ini dijaga bersama,” ujar Gibran.
Baca Juga:Tinjau Talud Longsor di Nusukan, Respati Ardi Minta Penanganan Komprehensif
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pesan tersebut belum mampu menghentikan eskalasi konflik.
5. Publik Menunggu Jalan Tengah Konflik Keraton
Hingga kini, belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan kedua belah pihak terkait pengelolaan kawasan keraton. Aksi saling mengganti gembok justru memperlihatkan bahwa persoalan mendasar belum terselesaikan.
Situasi ini membuat masyarakat, pemerhati budaya, serta pelaku pariwisata berharap ada solusi damai yang mengedepankan kepentingan publik dan pelestarian budaya.
Keraton Kasunanan Surakarta selama ini menjadi simbol penting identitas budaya Kota Solo. Konflik yang berlarut dikhawatirkan tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menggerus fungsi keraton sebagai pusat kebudayaan yang terbuka dan terawat.
Baca Juga:Tak Lagi Menjabat Petugas Partai, FX Rudyatmo Pilih Kembali Jadi Tukang Las
Kontributor : Dinar Oktarini